Minggu, 13 Desember 2009

Toriqoh Qodiriyah Wanaqsabandiyah

Seseorang yang memasuki dan mengambil thariqah Qodiriah wan Naqsyabandiyah ini, maka dia harus melaksanakan tata cara sebagai berikut;

1. Datang kepada guru mursyid untuk memohon izin memasuki thariqahnya dan menjadi muridnya. Hal ini dilakukan sampai memperoleh izinnya.

2. Mandi taubat yang dilanjutkan dengan shalat taubah dan shalat hajat.

3. Membaca istighfar 100 kali.

4. Shalat istikharah, yang bisa dilakukan sekali atau lebih sesuai dengan petunjuk sang Mursyid.

5. Tidur miring kanan dan menghadap kiblat sambil membaca shalawat Nabi Saw sampai tertidur.

Setelah lima hal tersebut dilakukan, selanjutnya adalah; Pelaksanaan Talqin Dzikir/Bai’at dengan cara kurang lebihnya seperti tersebut di atas. Melakukan puasa dzir-ruh (puasa sambil menghindari memakan makanan yang berasal dari yang bernyawa) selama 41 hari.

Baru setelah itu, dia tercatat sebagai murid thariqah qodiriyah wan naqsyabandiyah. Adapun setelah menjadi murid thariqah ini, dia berkewajiban mengamalkan wirid-wirid sebagai berikut;

a. Diawali dengan membaca:

الهى انت مقصودى ورضاك مطلوبى, اعطنىمحبتك ومعرفتك ولا حول ولا قوة الا بالله العلى العظيم 3×

b. Hadrah Al-Fatihah kepada Ahli silisilah Thariqah Qodiriah wan Naqsyabandiyah.

c. Membaca Al-Ikhlas 3 kali,Al-Falaq 1kali, dan An-Nas 1 kali.

d. Membaca shalawat umm 3 kali.
اللهم صل على سيدنا محمد النبى الامى وعلى اله وصحبه وسلم

e. Membaca istighfar 3 kali.
استغفر الله الغفور الرحيم

f. Rabithah kepada guru mursyid sambil membaca:

لااله الا الله حي باق, لا اله الا الله حي موجود, لا اله الا الله حي معبود

g. Membaca dzikir nafi itsbat (لا اله الا الله) ) enam puluh lima kali.

kemudian dilanjutkan dengan;

h. Membaca lagi:
الهى انت مقصودى ورضاك مطلوبى, اعطنىمحبتك ومعرفتك ولا حول ولا قوة الا بالله العلى العظيم 3×

i. Menenangkan dan mengkonsentrasikan hati ,kemudian kedua bibir dirapatkan sambil lidah ditekan dan gigi direkatkan seperti orang mati, dan merasa bahwa inilah nafas terakhirnya sambil mengingat alam kubur dan kiamat dengan segala kerepotannya.

j. Kemudian dengan hatinya mewiridkan dzikir ismudz-dzat ( (الله seribu kali

Keterangan:

- Semua wirid tersebut dilaksanakan setiap kali setelah shalat maktubah.

- Untuk dzikir ismudz- dzat, kalau sudah bisa istiqomah setelah shalat maktubah maka ditingkatkan dengan di tambah qiyamul lail dan setelah shalat dhuha.

- Untuk dzikir ismudz-dzat boleh dilakukan sekali dengan cara di ropel 5000 x (bagi yang masih ba’da maktubah) aau 7000 X (bagi yang sudah di tingkatkan)

- Sikap duduk waktu melaksanakan wirid tersebut tidak ada keharusan tertentu. Jadi bisa dengan cara tawarruk,iftirasy atau bersila.

- Bacaan aurad tersebut adalah bagi para mubtadi’ atau pemula.

- Ajaran aurad dan pelaksanaan amalan dzikir lainnya yang ada dalam thariqah qodiriah wan Naqsyabandiyah ini secara lebih detail dan terperinci, dapat diketahui apabila seseoang telah masuk menjadi anggotanya dan meningkat ajarannya.

Keterangan:

-Informasi mengenai kaifiyah dan amalan dalam thariqah qodiriyah wan naqsyabandiyah ini diperoleh dari KH.Abdul Wahab Mahfudhi, seorang mursyid thariqah Qodiriyah wan Naqsyabandiyah yang juga pengasuh pondok pesantren “ Asy-Syarifah” , Brumbung, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.

-Untuk kegiatan tawajuhhan di tempat KH.Abdul Wahab Mahfudhi diadakan setiap hari selasa untuk putri/ibu-ibu, dan setiap hari Rabu untuk putra/bapak-bapak, mulai jam 08.00-12.00 wib.

-Untuk pelaksanaan bai’at, bisa dilakukan setiap saat.

Adapun sanad kemursyidan KH.Abdul Wahhab Mahfudhi adalah sebagai berikut:

KH.Abdul Wahhab Mahfudhi dari Syaikh Ihsan dari Syaikh Muhammad Ibrahim dari Syaikh Abdul Karim Banten dari Syaikh Ahmad Khotib Sambas dari Syaikh Syamsudin dari Syaikh Muhammad Murodi dari Syaikh Abdul Fath dari Syaikh Utsman dari Syaikh Abdurrahim dari Syaikh Abu Bakar dari SyaikhYahya dari Syaikh Hisamudin dari Syaikh Waliuddin dari Syaikh Nurrudin dari Syaikh Sarofudin dari Syaikh Samsudin dari Syaikh Muhammad Al-Hatak dari Syaikh Abdul Aziz dari Sulthonul Auliya’ Sayyidisy Syaikh Abdul Qodir Al-Jilaniy dari Syaikh Abi Sa’id Al-Mubarak bin Mahzumi dari Syaikh Abul Hasan Ali Al-Makari dari Syaikh Abu Farh At-Thurtusiy dari Syaikh Abdul Wahid At-Taimi dari Syaikh Siir As-Saqthi dari SyaikhAbu Bakar As-Syibli dari Syaikh Sayyidi Thoifah Ash- Shufiyah Abul Qasim Al-Junaid Al-Baghdadi dari Syaikh Ma’ruf Al-Kurkhi dari Syaikh Abu Hasan Ali Ar-Ridlo bin Musa Ar-Rofi dari Syaikh Musa Al-Kadhim dari Syaikh Sayyidina Al-Imam Ja’far Ash-Shadiq dari sayyidina Muhammad Al-Baqir dari sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin dari sayyidina Asy-Syahid Husein bin Sayyidatina Fatimah Az-Zahro’ dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib dari Sayyidil Mursalin wa Habibi Rabbil-‘Alamin wa Rasulillah ila Kaffatil- Khola-iq Ajma’in Muhammad Saw dari sayyidina Jibril AS dari Rabbul-Arbab wa Mu’tiqur Riqab Allah Swt.

Rabu, 09 Desember 2009

Perdebatan

Sarana untuk mengajak manusia kepada Allah sangat banyak dan beragam. Yang paling umum digunakan adalah komunikasi verbal, untuk menyampaikan pesan kepada akal, perasaan, dan hati, baik dengan ungkapan maupun tulisan. Suatu pembicaraan sering berlanjut dengan diskusi dan perdebatan, padahal tidak semua da'i menguasai berbagai persoalan agama, baik penafsiran maupun aplikasinya. Perdebatan sering menjadi demikian seru dan memanas, masing-masing pihak ingin memenangkan pendapatnya atas pendapat pihak lain. Kondisi seperti ini mengharuskan adanya pihak yang kalah dan pihak yang menang {win-loss solution).



"...Dan diatas tiap-tiap orangyang berpengetahuan itu ada lagi YangMaha Mengetahui." (Yusuf: 76)



Sebenaran hakiki ada pada ayat-ayat Qur'an yang qath'iy, keteladanan yang diperagakan dalam perjalanan hidup Rasulullah saw., dan realita hidup orang-orang yang berpegang teguh pada keduanya, yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun yang berakal.



Pada dasarnya, penyampaian nilai-nilai dakwah tidak memberi peluang bagi munculnya debat kusir, kerana debat semacam ini tidak membuahkan suatu kebaikan sedikit pun. Al-Qur'an mengisyaratkan hal tersebut pada ayat berikut, "Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur'an ini bermacam-macamperumpa-maan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah" (Al-Kahfi: 54)



"Mereka berkata, cHai Nub, sesungguhnya kamu telah berbantahan dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzabyang kamu ancamkan kepada kami,jika kamu termasuk orangorang yang benar." (Huud: 32)



"Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang telah mati dapat mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang tuli dapat mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (mema-lingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorangpun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri." (An- Naml: 80-81)



Berdebat dengan orang-orang seperti ini tidak ada manfaatnya, ia hanya akan menemui jalan buntu. Kerana itulah Allah swt. menyuruh Rasul saw. agar berdak-wah dengan hikmah (bijaksana) dan memberi mauizhah hasanah (pelajaran yang baik), juga mewajibkan pada orang-orang yang beriman agar mendebat orang lain dengan cara yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan kesu-cian dan kebenaran yang terkandung dalam dakwah itu, yang dikukuhkan dengan tanggung jawab seorang muslim terhadap keyakinannya.



"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang (lebih) baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orangyang mendapat petunjuk." (An-Nahl: 125)



Sebagian pemuda cenderung menyukai perdebatan dan berlarut-larut dalam diskusi, hanya kerana ingm dikagumi dan ingin mengalahkan pihak lam, atau kerana sesuatuyang lain. Menghadapi orang seperti ini, seorang da'i harus dapat menyimpulkan pembicaraan bila telah tampak jelas mana "benang putih" dan mana pula "benang hitam"nya. Sebab, perdebatan yang tidak menghasilkan kesepakatan dan tanpa kata akhir justeru dapat menumbuhkan kebencian dalam jiwa, mengotori dan menutupinya, serta merusak rasa cinta kasih. Selain itu ia hanya akan menguras potensi tanpa faedah, bahkan tidak menyumbangkan kebaikan apa pun bagi dakwah itu sendiri. Perlu dipahami juga bahwa sasaran dakwah tidak hanya pada akal, sebab di tengah umat ini terdapat jutaan orang beriman yang awam namun mudah tersentuh hatinya. Kerana itu, melayani orang yang suka berdebat tanpa batas adalah kesia-siaan belaka dan membuang-buang waktu, padahal waktu adalah kehidupan itu sendiri.



Harus disadari juga bahwa kita tidak berada pada suatu masa yang akal pikiran dianggap segala-galanya hingga menuntut curahan perhatian pada perdebatan dan diskusi sengit yang tak banyak berarti. Lain halnya bila Anda bertemu seseorang lalu terjadi perdebatan panjang dengannya, namun Anda menemu-kan dengan jelas "benang putih" dan "benang hitam-nya" sejelas sinar matahari di siang bolong, sedangkan ia masih antusias untuk terus melakukan perbmcangan. Dalam kondisi seperti ini, biarkanlah ia, sembari menjaga etika debat yang baik. Jangan sampai ia lari kerana sikapmu, sehingga membuat orang-orang yang berpengetahuan sepertinya juga lari darimu. Insya Allah, etika baik, kesabaran, dan ketelatenanmu akan memperbanyak pendukung untuk membantumu dalam mengha-dapinya, lalu kebenaran dan keadilan yang engkau ingin-kan pun dapat tercapai, meskipun tentu memperlukan waktu. Nanti, ia akan datang kepadamu dengan ketulusan hati dan kelapangan dada.



Imam Hasan Al-Banna menyatakan dalam salah satu dari sepuluh wasiatnya: "Jangan memperbanyak debat dalam soal apa pun dan bagaimana pun, sebab perdebatan tidak membuahkan kebaikan."