Rabu, 22 April 2009

NILAI-NILAI PUASA MENUJU FITRAH

Oleh : Bapak Asykuri Alwi
Diposkan lagi oleh : RQ

”Hai Orang-orang yang beriman ! Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa” (QS Al Baqarah : 183)

Makna dari ayat diatas adalah perintah dari Allah SWT, yang ditujukan bagi orang yang beriman agar berpuasa dibulan ramadhan setiap tahun. Arti puasa itu sendiri ialah menahan diri dari makan dan minum dan menahan nafsu syahwat atau segala yang membatalkan puasa. Dari sejak terbitnya fajar sidik sampai terbenamnya matahari di ufuk barat sana. Dengan niat menunaikan perintah Allah.
Namun ada rukhsoh (Keringanan) bagi orang yang sakit atau dalam perjalanan, dibolehkan tidak berpuasa dengan menggantinya dihari yang lain. Untuk orang yang amat berat baginya mengerjakan puasa, seperti orang yang lanjut usianya, perempuan hamil dan perempuan yang menyusukan anaknya. Dibolehkan tidak berpuasa dengan diwajibkan membayar fidyah, memebri makan seprang miskin setiap hari selama dia berbuka puasa. Puasa merupakan ibadah yang sifatnya manahan diri. Sesungguhnya memberikan pendidikan yang dalam bagi moral dan mental orang yang berpuasa. Bagi mereka yang punya hobi makan atau ngemil kali ini harus menahan dari kebiasan itu. Terasa berat namun karena sudah diniati ibadah seberat apapun resikonya tentu bisa terlewati dengan baik.
Secara syar’i puasa ditegaskan dalam AL Qur’an (surat al baqarah 187) sebagai menahan hawa nafsu dari makan minum dan hubungan seksual dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Pengertian ini kemudian diperjelas oleh Rasulullah seperti yang diriwayatkan oleh imam bukhori ”barang siapa yang tidak meninggalkan perbuatan zur (dusta, umpat, fitnah, segenap perkataan yang mendatangkan kemurkaan Allah, dan membuat sengketa dan keributan) dan tidak meninggalkan pekerjaan-pekerjaan itu, maka tidak ada hajat (keperluan) bagi Allah (walaupun) ia meninggalkan makan dan minum. Bukankah puasa itu hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga puasa dari perkataan kotor dan caci maki.”
Dari tolok ukur diatas dapatlah menginstrospeksi masing-masing apakah puasa yang dilaksanakan selama ini dikerjakan secara benar dan tepat, baik niat maupun tata laksananya. Jangan sampai kita berpuasa tapi ”roh puasa” itu hilang dalam diri kita. Mengapa demikian ? dikarenakan kita berpuasa baru sebatas puasa jasmani saja sednagkan rohani tidak terbina sama sekali. Padahal dalam bulan itu kata rasulullah, allah telah melimpahkan karunia dan menurunkan rahmatnya, menghapus kesalahan-kesalahan dan mengabulkan doa-doa umatnya.. tentu kita berharap agar dibulan puasa ini selalu menjadi sarana untuk berlomba-lomba dalam amal shalih dan kebijakan dengan mengharap ridho dan rahmat allah SWT. Serta menjaga sportifitas diri baik dalam berkarya maupun berusaha, meski di siang hari stamina agak menurun.
Disiplin diri dan memberi contoh
Dimensi puasa dapat ditinjau dari berbagai segi, mulai dari segi kesehatan, sikap prilaku, ekonomi, sosial kemasyarakatan dsb. Dari segi sikap perilaku diri dampak puasa adalah mampu manahan dari perbuatan-perbuatan yang menggugurkan puasa itu sendiri. Tentu kita berharap jangan sampai termasuk apa yang disampaikan Nabi SAW. Banyak orang yang berpuasa tetapi tidak akan mendapat apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga. Alangkah ruginya kita.
Secara jasmani tentu ada pengaruh akibat berpuasa, mulai dari rasa haus, lapar, letih, dan mengantuk, sehingga tidak maksimal seperti hari-hari biasa. Namun yang lebih urgen dari puasa adalah kita diajarkan disiplin, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Segera berbuka bila sudah saatnya. Menjunjung tinggi kejujuran dan tidak berbohong serta berusaha meraih prestasi yang terbaik dihadapan allah dengan melakukan amaliah-amaliah utama dibulan ramadhan. Demikian pula dari segi lahiriah, karena sudah dibiasakan disiplin pada saat puasa, minimal dalam dunia kerja pun disiplin dan berupaya meraih prestasi dalam berkarya.
Kedisplinan kerja merupakan cermin pribadi seseorang. Hal ini dapat terealisir jika dimulai dari diri sendiri, tidak cukup digembor-gemborkan atau ditulis dalam slogan/spanduk nan menawan saja. Harus ada aksi, dan dimulai dari diri sendiri ibda’binafsik, dan dibulan ramadhan ini, para pemimpin rakyat sudah memulai melakukan perubahan, dan dimulai dari diri mereka sendiri. Seperti contoh yang ditujukan oleh ketua MPR kita, meski dalam tamsil yang berbeda. Dalam rangka sense of crisis serta menjawab anggapan masyarakat bahwa para wakil rakyat ketika kampanye berpidato secara muluk. Namun setelah mereka duduk dilegeslatif seakan lupa janji mereka yang akan memperjuangkan nasib rakyat, namun justru sebaliknya banyak para wakil rakyat ”yang terhormat” harus mendekam dipenjara. Dikarenakan melakukan penyalahgunaan wewenang untuk memprkaya diri dengan dalih memperjuangkan aspirasi rakyat. Dalam rangka itulah, ia mulai membangun image dan merealisasikan janjinya dengan keluar dari sistem kebiasaan, ia berani menolak segala fasilitas mewah yang diberikan negara, dan nampaknya diikuti oleh beberapa menteri baru. Di pemalang pun kita cukup respec terhadap inisiatif salah seorang legeslatif daerah ketika sudah tidak menjabat lagi sebagai top leader dengan serta merta mengembalikan fasilitas mobil dinasnya tanpa menunggu suara sumbang dari masyarakat bermunculan. Hal itu semata-mata untuk menjadi tauladan bagi rakyat yang memilihnya. Menjaga kepercayaan dan kedisiplinan diri adalah cermin dari kepribadian matang seseorang dalam hidup bermasyarakat.

1 komentar:

  1. o jadi sebenernya puasa itu emang suatu ibadah yang pahalanya langsung ke Allah yah mas

    BalasHapus