Minggu, 13 Desember 2009

Toriqoh Qodiriyah Wanaqsabandiyah

Seseorang yang memasuki dan mengambil thariqah Qodiriah wan Naqsyabandiyah ini, maka dia harus melaksanakan tata cara sebagai berikut;

1. Datang kepada guru mursyid untuk memohon izin memasuki thariqahnya dan menjadi muridnya. Hal ini dilakukan sampai memperoleh izinnya.

2. Mandi taubat yang dilanjutkan dengan shalat taubah dan shalat hajat.

3. Membaca istighfar 100 kali.

4. Shalat istikharah, yang bisa dilakukan sekali atau lebih sesuai dengan petunjuk sang Mursyid.

5. Tidur miring kanan dan menghadap kiblat sambil membaca shalawat Nabi Saw sampai tertidur.

Setelah lima hal tersebut dilakukan, selanjutnya adalah; Pelaksanaan Talqin Dzikir/Bai’at dengan cara kurang lebihnya seperti tersebut di atas. Melakukan puasa dzir-ruh (puasa sambil menghindari memakan makanan yang berasal dari yang bernyawa) selama 41 hari.

Baru setelah itu, dia tercatat sebagai murid thariqah qodiriyah wan naqsyabandiyah. Adapun setelah menjadi murid thariqah ini, dia berkewajiban mengamalkan wirid-wirid sebagai berikut;

a. Diawali dengan membaca:

الهى انت مقصودى ورضاك مطلوبى, اعطنىمحبتك ومعرفتك ولا حول ولا قوة الا بالله العلى العظيم 3×

b. Hadrah Al-Fatihah kepada Ahli silisilah Thariqah Qodiriah wan Naqsyabandiyah.

c. Membaca Al-Ikhlas 3 kali,Al-Falaq 1kali, dan An-Nas 1 kali.

d. Membaca shalawat umm 3 kali.
اللهم صل على سيدنا محمد النبى الامى وعلى اله وصحبه وسلم

e. Membaca istighfar 3 kali.
استغفر الله الغفور الرحيم

f. Rabithah kepada guru mursyid sambil membaca:

لااله الا الله حي باق, لا اله الا الله حي موجود, لا اله الا الله حي معبود

g. Membaca dzikir nafi itsbat (لا اله الا الله) ) enam puluh lima kali.

kemudian dilanjutkan dengan;

h. Membaca lagi:
الهى انت مقصودى ورضاك مطلوبى, اعطنىمحبتك ومعرفتك ولا حول ولا قوة الا بالله العلى العظيم 3×

i. Menenangkan dan mengkonsentrasikan hati ,kemudian kedua bibir dirapatkan sambil lidah ditekan dan gigi direkatkan seperti orang mati, dan merasa bahwa inilah nafas terakhirnya sambil mengingat alam kubur dan kiamat dengan segala kerepotannya.

j. Kemudian dengan hatinya mewiridkan dzikir ismudz-dzat ( (الله seribu kali

Keterangan:

- Semua wirid tersebut dilaksanakan setiap kali setelah shalat maktubah.

- Untuk dzikir ismudz- dzat, kalau sudah bisa istiqomah setelah shalat maktubah maka ditingkatkan dengan di tambah qiyamul lail dan setelah shalat dhuha.

- Untuk dzikir ismudz-dzat boleh dilakukan sekali dengan cara di ropel 5000 x (bagi yang masih ba’da maktubah) aau 7000 X (bagi yang sudah di tingkatkan)

- Sikap duduk waktu melaksanakan wirid tersebut tidak ada keharusan tertentu. Jadi bisa dengan cara tawarruk,iftirasy atau bersila.

- Bacaan aurad tersebut adalah bagi para mubtadi’ atau pemula.

- Ajaran aurad dan pelaksanaan amalan dzikir lainnya yang ada dalam thariqah qodiriah wan Naqsyabandiyah ini secara lebih detail dan terperinci, dapat diketahui apabila seseoang telah masuk menjadi anggotanya dan meningkat ajarannya.

Keterangan:

-Informasi mengenai kaifiyah dan amalan dalam thariqah qodiriyah wan naqsyabandiyah ini diperoleh dari KH.Abdul Wahab Mahfudhi, seorang mursyid thariqah Qodiriyah wan Naqsyabandiyah yang juga pengasuh pondok pesantren “ Asy-Syarifah” , Brumbung, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.

-Untuk kegiatan tawajuhhan di tempat KH.Abdul Wahab Mahfudhi diadakan setiap hari selasa untuk putri/ibu-ibu, dan setiap hari Rabu untuk putra/bapak-bapak, mulai jam 08.00-12.00 wib.

-Untuk pelaksanaan bai’at, bisa dilakukan setiap saat.

Adapun sanad kemursyidan KH.Abdul Wahhab Mahfudhi adalah sebagai berikut:

KH.Abdul Wahhab Mahfudhi dari Syaikh Ihsan dari Syaikh Muhammad Ibrahim dari Syaikh Abdul Karim Banten dari Syaikh Ahmad Khotib Sambas dari Syaikh Syamsudin dari Syaikh Muhammad Murodi dari Syaikh Abdul Fath dari Syaikh Utsman dari Syaikh Abdurrahim dari Syaikh Abu Bakar dari SyaikhYahya dari Syaikh Hisamudin dari Syaikh Waliuddin dari Syaikh Nurrudin dari Syaikh Sarofudin dari Syaikh Samsudin dari Syaikh Muhammad Al-Hatak dari Syaikh Abdul Aziz dari Sulthonul Auliya’ Sayyidisy Syaikh Abdul Qodir Al-Jilaniy dari Syaikh Abi Sa’id Al-Mubarak bin Mahzumi dari Syaikh Abul Hasan Ali Al-Makari dari Syaikh Abu Farh At-Thurtusiy dari Syaikh Abdul Wahid At-Taimi dari Syaikh Siir As-Saqthi dari SyaikhAbu Bakar As-Syibli dari Syaikh Sayyidi Thoifah Ash- Shufiyah Abul Qasim Al-Junaid Al-Baghdadi dari Syaikh Ma’ruf Al-Kurkhi dari Syaikh Abu Hasan Ali Ar-Ridlo bin Musa Ar-Rofi dari Syaikh Musa Al-Kadhim dari Syaikh Sayyidina Al-Imam Ja’far Ash-Shadiq dari sayyidina Muhammad Al-Baqir dari sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin dari sayyidina Asy-Syahid Husein bin Sayyidatina Fatimah Az-Zahro’ dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib dari Sayyidil Mursalin wa Habibi Rabbil-‘Alamin wa Rasulillah ila Kaffatil- Khola-iq Ajma’in Muhammad Saw dari sayyidina Jibril AS dari Rabbul-Arbab wa Mu’tiqur Riqab Allah Swt.

Rabu, 09 Desember 2009

Perdebatan

Sarana untuk mengajak manusia kepada Allah sangat banyak dan beragam. Yang paling umum digunakan adalah komunikasi verbal, untuk menyampaikan pesan kepada akal, perasaan, dan hati, baik dengan ungkapan maupun tulisan. Suatu pembicaraan sering berlanjut dengan diskusi dan perdebatan, padahal tidak semua da'i menguasai berbagai persoalan agama, baik penafsiran maupun aplikasinya. Perdebatan sering menjadi demikian seru dan memanas, masing-masing pihak ingin memenangkan pendapatnya atas pendapat pihak lain. Kondisi seperti ini mengharuskan adanya pihak yang kalah dan pihak yang menang {win-loss solution).



"...Dan diatas tiap-tiap orangyang berpengetahuan itu ada lagi YangMaha Mengetahui." (Yusuf: 76)



Sebenaran hakiki ada pada ayat-ayat Qur'an yang qath'iy, keteladanan yang diperagakan dalam perjalanan hidup Rasulullah saw., dan realita hidup orang-orang yang berpegang teguh pada keduanya, yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun yang berakal.



Pada dasarnya, penyampaian nilai-nilai dakwah tidak memberi peluang bagi munculnya debat kusir, kerana debat semacam ini tidak membuahkan suatu kebaikan sedikit pun. Al-Qur'an mengisyaratkan hal tersebut pada ayat berikut, "Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur'an ini bermacam-macamperumpa-maan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah" (Al-Kahfi: 54)



"Mereka berkata, cHai Nub, sesungguhnya kamu telah berbantahan dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzabyang kamu ancamkan kepada kami,jika kamu termasuk orangorang yang benar." (Huud: 32)



"Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang telah mati dapat mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang tuli dapat mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (mema-lingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorangpun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri." (An- Naml: 80-81)



Berdebat dengan orang-orang seperti ini tidak ada manfaatnya, ia hanya akan menemui jalan buntu. Kerana itulah Allah swt. menyuruh Rasul saw. agar berdak-wah dengan hikmah (bijaksana) dan memberi mauizhah hasanah (pelajaran yang baik), juga mewajibkan pada orang-orang yang beriman agar mendebat orang lain dengan cara yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan kesu-cian dan kebenaran yang terkandung dalam dakwah itu, yang dikukuhkan dengan tanggung jawab seorang muslim terhadap keyakinannya.



"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang (lebih) baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orangyang mendapat petunjuk." (An-Nahl: 125)



Sebagian pemuda cenderung menyukai perdebatan dan berlarut-larut dalam diskusi, hanya kerana ingm dikagumi dan ingin mengalahkan pihak lam, atau kerana sesuatuyang lain. Menghadapi orang seperti ini, seorang da'i harus dapat menyimpulkan pembicaraan bila telah tampak jelas mana "benang putih" dan mana pula "benang hitam"nya. Sebab, perdebatan yang tidak menghasilkan kesepakatan dan tanpa kata akhir justeru dapat menumbuhkan kebencian dalam jiwa, mengotori dan menutupinya, serta merusak rasa cinta kasih. Selain itu ia hanya akan menguras potensi tanpa faedah, bahkan tidak menyumbangkan kebaikan apa pun bagi dakwah itu sendiri. Perlu dipahami juga bahwa sasaran dakwah tidak hanya pada akal, sebab di tengah umat ini terdapat jutaan orang beriman yang awam namun mudah tersentuh hatinya. Kerana itu, melayani orang yang suka berdebat tanpa batas adalah kesia-siaan belaka dan membuang-buang waktu, padahal waktu adalah kehidupan itu sendiri.



Harus disadari juga bahwa kita tidak berada pada suatu masa yang akal pikiran dianggap segala-galanya hingga menuntut curahan perhatian pada perdebatan dan diskusi sengit yang tak banyak berarti. Lain halnya bila Anda bertemu seseorang lalu terjadi perdebatan panjang dengannya, namun Anda menemu-kan dengan jelas "benang putih" dan "benang hitam-nya" sejelas sinar matahari di siang bolong, sedangkan ia masih antusias untuk terus melakukan perbmcangan. Dalam kondisi seperti ini, biarkanlah ia, sembari menjaga etika debat yang baik. Jangan sampai ia lari kerana sikapmu, sehingga membuat orang-orang yang berpengetahuan sepertinya juga lari darimu. Insya Allah, etika baik, kesabaran, dan ketelatenanmu akan memperbanyak pendukung untuk membantumu dalam mengha-dapinya, lalu kebenaran dan keadilan yang engkau ingin-kan pun dapat tercapai, meskipun tentu memperlukan waktu. Nanti, ia akan datang kepadamu dengan ketulusan hati dan kelapangan dada.



Imam Hasan Al-Banna menyatakan dalam salah satu dari sepuluh wasiatnya: "Jangan memperbanyak debat dalam soal apa pun dan bagaimana pun, sebab perdebatan tidak membuahkan kebaikan."

Sabtu, 17 Oktober 2009

Mbah Barsaeso Assesatiah

Tercerita pada suatu zaman dimana zaman itu adalah zaman yang tidak diketahui zaman apa untuk ditulis ga kaya sekarang penulis dimudahkan dengan kata-kata zaman orde baru atau zaman orde lama, dan yang ane tulis saat ini bukanlah kisah nyata melainkan hanya fiktif belaka hahahahahahahahaha I LOVE YOU FULL TANK hahahahahahaha.....

Kembali ke cerita, Pada Zaman itu tinggalah seorang ulama Ahli Ibadah sampe-sampe jidatnya item loh sumpah ane ga bohong....... Dia penuhi harinya dengan beribadah dia isi waktunya dengan lantunan Al-Quran, dia menghias diri dengan tahajjud, dia adalah ulama yang tinggal disuatu hutan atau lari dari sifat dunia atau orang-orang menyebutnya SUFI...... tp ya Wallahu 'alam......

Namun kealiman sang Kyai itu terdengarlah oleh Syetan Musuh yang nyata, dia menggunakan akal yang sangat picik untuk menghancurkan Kyai Barsaeso. aha,,,,,,, kata Syetan gue tau apa jalan untuk menyesatkan tuh kyai hahahahahahahahahaha I LOVE YOU full to Wanita Cantik, iya Kyai itu bisa lemah hanya dengan wanita cantik, Cakap setan kepada Ikhwan setan yang lain. Ok kamu tau kan cewek kampung deket hutan tempat kyai itu yang paling bahenol .....hehehehehehe kata bozz setan, anak buahnya jawab ya Bozz Setan Loo hehehe gw kenal ma dia, Dia itu namanya Munafikunaini....... Dia wanita bar klo kerja di Jakarta boss, Kadang juga ke tempat azep-azep bozz makanya gmna bozz usulan gw hahahahaha.......... Boss Setan Loo akhirnya menjawab Dasar setan Loo ya tau aja kalau ada cewek kece hehehehehehehe, Ok kita susun rencana.

Kyai Alim Nan Solehah eehhh salah Soleh itu pun senantiasa hidupnya dipenuhi dengan Dzikir memohon kepada Allah, namun lagi-lagi dia hanyalah manusia biasa yang punya cinta rasa dan kasih sayang, stelah sekian lama tinggal di Gunung/ hutan dia ingin rasanya kembali mendatangi hingar-bingar kota Jakarta yang selalu hidup tanpa tertidur, hingga pada suatu saat dia duduk di teras rumah sambil berkata dalam hati "andai saja gw punya bini hujan2 gini pasti gw ga kedinginan" terus dia menghayal nah pembaca ternyata dalam khayalan itu datanglah Bozz Setan Loo, membisik dalam pikiranya menyentuh hawa nafsunya melayangkan sebagian dari ruhnya menuju pada pergulatan Akbar dalam lamunan yang amat dalam terus sang Kyai dibawa dalam dunia Khayal yang dinyatakan oleh Bozz Setan Loo........ Akhirnya setelah lama kemudian terbesitlah dalam angannya untuk turun ke desa,......

kyai Barsaeso Langsung pagi harinya turun ke Desa dengan alasan mau beli tempe buat lauk makan siang ( padahal dlm hatinya ah.... cuci mata ahh kali aja ada cewek cakep.... hehehehehe ) itu Kyai karena udah dihasut ma setan loh tapi dulu mah kagak.........
ternyata semua sudah di sekenario oleh Bozz Setan Loo, agar ntar di pertemukan dengan cewek Bar yang baru pulang kampung itu, tepat di tepi jalan weeeh ga taunya papagan ( apa yah basa Indonesianya ) pokonya bertemu dijalan dengan lawan arah yang berbeda.......
Kyai Weeeeehhhh cewek cakepp Beeeeuddd dah........ gumamnya dalam hati, nah ini dia yang gue cari mau gw jadiin istri tuh.........!! ah beli tempe ntar aja lah gw mwndingan ngejar tuh cewek.

Setelah kejar-kejaran dengan cewek itu akhirnya sampai juga di suatu Kedai sebut aja itu Kedai Simpang, nih simak yah percakapan Kyai ma tuh cewek.....
Kyai : Assalamualaikum .......
Cewek : Oh Cowok gimna cowok....??
Kyai : kok salam gw ga di jawab sih....??
Cewek : oh ya sorry cowok mang salah yah .......
Kyai : salah donk coz itu tidak singkron gw udah ngedoain lu masa lu ga ngedoain gw
Cewk : ok deh maaf.....
Kyai : kalo boleh tau namanya siapa non.....??
Cewek : Gw.... Gw namanya Munafikuniani....
Kyai : Ohhhh Kenalin Gw Barsaeso.....
Cewek : Ok... Ohhh sorry nih ya gw ada acara jadi gw mesti pergi dulu nih.........
Kyai : Ok silahkan titi dj yah.....??
Cwek : sama -sama jangan lupa ya klo ada yang dibutuhkan telp saya nih nomernya 08877546632
Kyai : Ok gw save nih.....??

Semenjak perkenalan dengan cewek itu kyai jadi enggan tidur keseharianya dipenuhi dengan hayalan hidup bersamanya, dan setan pun ga tinggal diam sampai pada akhirnya timbulah niat pada diri sang Barsaeso Untuk melamar sang gadis pujaan hatinya..........

Akhirnya tanpa panjang lebar saya ceritain aja kelanjutanya bahwa akhirnya datanglah kyai Untuk melamar sang gadis Pujaan hatinya, mau denger lagi ga perbincanganya.....??? nih ane kasih tau yah
Barsaeso : Assalamualaikum...
Munafik : Walaikumsalam...
Bar : gini Gw dateng kesini cuma mau nglamar lu aja agar jadi istri gw mau ga lu.....??
Munafik : apah...................... hah........... melamar gw punya apa looooooooooo....???
Bar : gw...?, Gw punya Cinta ...
Munafik : makan tuh cinta...!!!
Bar : jadi Lo ga mau ma gw....??
Munafik : ya ga lah siapa loo...? Punya Apa....?? nikahin gw itu mahal ya.... gw kasih tau lo....!!!
Bar : Ayolah Syarat apapun akan gw jalanin ( sambil memohon )...
Munafik :ok ...... gw mau jadi bini Lu asal lu mau netepin syarat dari gw..!!!
Bar : Apapun syaratnya akan Gw jalanin
Munafik : Ok kalau bgitu, Nih gw asih tau syaratnya ..... Lu boleh pilih ..?
Bar : apa sebutkan ...... sebelum gw berubah pikiran nh......
Munafik : ok saratnya kamu harus membunuh Bayi itu ( menunjuk bayi yang udah disediain ama syetan ) atau Minum Arak sebelah sono ( Wiski tulisane kaya apa yah, yah pokonya minuman mahal dan beralkohol tinggi ) atau kamu harus menjinahi aku........ nih sambil nunjuk ke......( sensor ) atau kamu harus Mencuri mas milik mbah Lurah desa ini....................???? kamu tinggal pilih mana yang paling ringan diantara syarat itu dan laksanakan malam ini juga.......!!!
Bar : Aduh mana yah yang gw pilih semuanya dosa besar...... ( berfikir ) klo zina wah malu dong gw masa kyai kondang Zina..... Kalau membunuh bayi gw lebih malu donk masa kyai Terkenal Pembunuh bayi...... Kalau gw Maling wah,... kalau ga ketangkap... kalau ketangkap bonyok gw malu lg masa kyai Zuhud kok maling..... Ohhh ya kalau begitu mendingan gw minum Arak aja deh kan disini cuma ada dia, ga bakalan dia ngomong masalahnya ini Gw sendiri yang terjun langsung ga ada pihak ke 2, ok kalau begtu gw milih Minum Arak aja ........
Munafik : hayoo tentukan pilihan sekarang sebelum selesai.......??
Bar : Ok gw sekarang milih Minum arak....!!!!
Munafik : hahahahahahahaha, Ya udah sekarang minum aja....
Bar : Ok gw minum.....
Munafik : abisin yah......
Bar : Ok saayang (udah mulai mabuk ttuh.....)
satu gelas Barsaeso masih kuat eh giliran 2 botol dia mabuk, dalam mabuknya itu dia disuruh ama Cewek Munafik Coba deh nih parang babatin ke leher bayi itu...... maka dengan sekejap bayi pun matek, kemudian disuruh lagi coba deh sekarang Zinahi aku..... Maka ( laksana Kucing dikasih ikan asin siapa sih yang nolak ya ga....heheheheh ) setelah membunuh bayi menzinahi Munafik, terus kalau begtu mumpung masih malem silahkan kamu ambil tuh perhiasan ibu lurah tegas sang Cewek Munafik. sebagai orang mabuk pun akhirnya maling juga......

Pagi-paginya ada pengumuman nih di toa ( Sepekerlah bahasa gaule ) telah ditangkap maling bernama Kyai Barsaeso, Juga ternyata yang membunuh bayi dan juga yang memperkosa dek Muna......
Kyai Barsaeso ahirnya ditangkap dibawa ke Balai Desa di Intro gasi .....
Dia tidak mengakui dia merasa di fitnah, akhirnya di bebaskan Kyai itu suruh kehutan lagi,.... Dia malu dengan setiap orang dia malu sampai ga mau beribadah bukanya tobat ya,,,,....! Sampai pada akhirnya ada setan membisik udah Lo itu tiada guna Gantung diri aja Loooooo....

Dengan tekad yang kuat karena terlanjur malu akhirnya jadilah dia gantung diri dan mati.......... Syetan pun berfoya-foya atas keberhasilanya melumpuhkan ulama itu, HOREEEEE HOREEEE BERHASILLLLLLL YES YES YES AKHIRNYA DESA INI KEMBALI DI KUASAI SETAN HAHAHAHAHAHAHAHA

Ibadahnya selama 41 th ga terpakai gara-gara terjebak dengan rayuan dunia......

Ikhwanku janganlah menggampangkan Minuman Khomer karena Hampir setiap kejahatan berawal dari situ.......

Mau cerita lebih lengkap baca di kitab Ikhya Jilid 4 bab bahayanya Minuman Khomr

akhirul kata Wassalamualaikum ......

Sabtu, 03 Oktober 2009

Lindu Jare Wong Jowo........

lindu sedino kaping pitu, ugo ono gundolo sosro ( gundolo gelap sosro sewu ) yen wis krungu nek ono gelap sewu moni bareng.........


Gempa..(lindu) orang jawa biasa menyebut dengan ucapan itu, Orang-orang Jawa kuno agak berbeda pandangan mengenai Lindu (gempa) dengan para pakar geologi, meteorologi, ataupun Geofisika. Menurut para pakar Ilmu Meteorologi dan Geofisika gempa merupakan kejadian alam yang diakibatkan oleh pergeseran kulit bumi.... nah itulah gempa menurut para ahli meteorologi dan geofisika.

tapi para sesepuh Jawa tengah pada khususnya mempunyai pemahaman sendiri mengenai gempa, para pemahaman kejawen memahami gempa (lindu) sebagai sebuah pertanda bahwa bumi ini sedang berduka, dan berdukanya bumi disebabkan oleh banyak hal, diantaranya adalah banyaknya maksiat yang terjadi di Bumi, banyaknya para penguasa yang menyalahkan kekuasaaanya, banyakanya anak muda yang sudah enggan mengikuti syareat Islam, banyaknya para penerima kwajiban yang luapa akan kwajiban, banyaknya para pemegang amanat yang lupa akan amanatnya dan meninggalnya Ulama yang di Agungkan dan dianggap PAKU TANAH JAWA, serta banyak sekali hal yang menyebabkan itu.

dari keterangan itu, harusnya kita berinstropeksi diri, apakah kita udah termasuk orang yang menyebabkan gempa menurut ulama kejawen......???? apakah kita orang yang turut menanggung dosa atas gugurnya mereka korban gempa.....???? apakah kita orang yang mengakibatkan bumi menangis prihatin karena perbuatan kita tiada pernah baik di mata bumi yang kita tinggali.....???? Bumi menangis karena banyak sebab, tapi leboh dominan disebabkan oleh perbuatan tidak baik manusia.
walau adakalanya bumi ini menangis karena memang prihatin ketika Ulama Paku Tanah Jawa meninggal dunia, jadi teringat, mungkin bumi ini sedemikian hebat bergoncang karena bumi menangis prihatin setelah meninggalnya seorang Ulama besar yaitu Syeikh Asrori Al-Ishaq, mungkin ............... bumi merasa hidupnya sudah tiada guna sebab ditinggalkan oleh orang-orang alim penerima waris rosulullah pengemban amanat dari Allah yang amanah, tapi juga tidak menutup kemungkinan karena manusia sudah tergoda akan kemanisan dunia yang dijanjikan hawa nafsu......... Iming-iming syetan penyebab bencana............???

Saudaraku Ikwanul Muslim jangan cuma menjadi penonton dalam pementasan film ini, karena kita itu pemain kita itu diatur oleh yang maha mengatur, kapan kita merubah diri kita kapan........??? kalo tidak dari sekarang.

Ikhwanul muslim jangan anggap bahwa kiamat nunggu kita tobat, kiamat akan terjadi kapanpun sesuka Allah, Ulama di dunia ini sudah banyak yang Pulang ke Rahmat Allah, kapan kita mulai membimbing diri kita, kapan kita dekat dengan ulama .......??? Sabda Rosul saw. bahwa di akhir zaman akan datang suatu zaman diamana para ulama banyak yang meninggal dunia dan yang masih hidup dijauhi oleh para manusia, klo mereka mendekat kepada ulama ketika mereka butuh pertolongan ulama itu,.......

mungkin itu pemahaman orang-orang kejawen terhadap Lindu ( GEMPA ) dan agak berbeda memang dengan para ahli meteorologi. banyak sekali kesalahan tulis mohon maaf yah......

Ikhwanul Muslim Kesalahan pada diri manusia itu umum terjadi dan biasa terjadi, sebagai manusia biasa yang dhoif mungkin banyak sekali kesalahan dalam tulisan ini maka sekiranya Ikhwanul Muslim semua dapat memaafkan kesalahan saya,...... Segala kebenaran Kepunyaan Allah dan Mutlak punya Allah, Akhirul Kata Wassalamualaikum Warahmatullah..........

Selasa, 25 Agustus 2009

Berita Duka Untuk Ikhwanul Muslimin wal Muslimat Khususon Toriqoh Qodiriyah Wanaqsabandiyah


Ini Adalah Sosok Ulama yang Luar biasa
kami telah kehilangan lagi Ulama Paku Jawa " ya Allah Semoga Ada Sosok Pengganti Beliau"



Innalillahi wainnaillaihi roji'un Telah Pulang Ke Rahmat Allah SWT. Al-Arief Billahi Khadrotusyech Romo KH. Achmad Asrori Bin KH. Utsman Al-Ishaqi ra. semoga beliau di terima dalam rahmat Allah SWT. bertemu dengan para Guru-Guru dan Para Masayekh serta Rasul Allah dan tentunya dengan Allah SWT.

Senin, 24 Agustus 2009

Mutiara Hadist Kemuliaan Bulan Ramadhan

Assalamualaikum Wr.Wb.

Pengunjung blogger yang dimuliakan oleh Allah, Ramadhan telah datang banyak sekali orang-orang yang mencari-cari apa sih kemuliaan bulan Ramadhan berikut kami kutipkan dari kitab Tanbihul Ghofilin karya Abulaits Assamarqondi.

Beliau meriwayatkan dari sanadnya dari Ibnu Abbas ra. berkata Bahwa ia telah mendengar Rosulullah SAW. bersabda:

Sesungguhnya surga itu di ukup-ukup dan diperhias setiap tahunya setiap memasuki bulan Ramadhan, maka apabila malam pertama Ramadhan berhembuslah angin dari bawah Arsy yang bernama Almutsirah menggoyangkan daun-daun syurga dan menggerakan daun pintu sehingga terdengar suara bidadari dari jendela-jendela bagian atas Syurga dan berseru : Siapakah yang meminang kepada Allah untuk dikawinkan dengan kami, kemudian bidadari-bidadari itu bertanya kepada Malaikat Ridwan :Ya Ridwan malam apakah ini ...??Jawabnya :Wahai Wanita-wanita cantik , ini adalah malam pertam dari bulan Ramadhan. kemudian Allah SWT. berfirman : Ya Ridwan, bukalah Pintu-pintu Syurga untuk orang-orang yang berpuasa dari umat Muhammad SAW. dan memerintahkan malaikat Mikail : Ya Mikail tutuplah pintu-pintu Neraka Jahim dari Orang-orang yang berpuasa dari ummat Muhammad SAW. dan berfirman : Ya Jibril Turunlah kebumi dan ikatlah Syetan-syetan yang Jahat dan rantailah mereka dan buanglah kedalam laut agar tidak mengganggu (merusak) puasa umat Muhammad SAW.Dan pada tiap malam Ramadhan, Allah berseru tiga kali: Siapakah yang meminta akan ku beri, siapa yang taubat akan aku terima taubatnya, siapa yang meminta ampun akan ku ampuni dosanya, kemudian diserukan : siapakah yang akan menabung pada yang kaya yang tidak pernah tidak punya, dan yang selalu menepati dan tidak dzalim, dan setiap hari pada bulan ramadhan, Allah memerdekakan sejuta Ahli neraka yang semuanya layak untuk mendapat siksa, dan pada hari itu atau malam jum'at pada setiap jamnya, dibebaskan sejuta orang dari jilatan api neraka, dan bila pada akhir bulan Ramadhan Allah memerdekakan dari pertama hingga akhir Ramadhan. Dan pada malam Lailatul Qodr, malaikat Jibril beserta serombongan malaikat turun kebumi dengan membawa Panji hijau yang diletakan diatas Ka'bah, dan ia mempunya 600 sayap, di antara dua sayap tidak hampar kecuali malam Lailatul Qodr, maka pada saat itu dihamparkan sehingga memenuhi ujung timur hingga ujung barat.
lalu malaikat Jibril mengutus malaikat pergi kepada umat Muhammad untuk memberi salam kepada setiap orang yang sedang berdiri atau duduk, sembahyang tau berdzikir dan menjawab salam mereka dan mengamini doanya mereka hingga fajar.Apabila telah terbit fajar, maka Jibril berseru : Hai para malaikat kembalilah segera, lalu para malaikat bertanya bagaimana tenmtang kebutuhan kaum mukminin dari umat Muhammad SAW. ?? Jibril Jawab : Allah melihat mereka mereka dengan pandangan rahmat lalu memaafkan mereka, kecuali empat macam: 1. Pemabuk( Peminum Khomer ) 2. Pendurhaka terhadap Ayah Ibunya. 3. Memutus hubungan family. 4. Orang yang membaikot tidak berbicara kepada saudaranya lebih dari 3 hari. Dan apabila tiba malam idul fitri itu bernama malam pembagian hadiah, maka pada pagi harinya diutus Malaikat berdiri diperempatan jalan sambil berseru dengan suara yang lantang sehingga dapat didengar oleh segala sesuatau kecuali jin dan manusia : Hai umat Muhammad, keluarlah kamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, memberi yang besar dan mengampuni dosa-dosa besar, maka bila mereka telah keluar kemushola, Allah berfirman kepada malaikat : Hai MalaikatKu apakah upah buruh bila ia telah selesai mengerjakan tugasnya...? Jawab malaikat : Ya Tuhan upahnya agar dibayar LUNAS. Maka berfirman Allah : Aku persaksikan kepadamu wahai malaikatku bahwa pahala puasa dan bangun malam Ramadhan itu keridhoanKu dan ampunanKu. Kemudian Allah berfirman : Mintalah wahai HambaKu, maka demi kemuliaan dan kebesaranKu, tiadalah engkau meminta urusan dunia atau urusan agama melainkan Aku berikan kepadamu.

Kamis, 13 Agustus 2009

HARAPAN DAN DO'A

SEBAHAGIAN DARIPADA TANDA BERSANDAR KEPADA AMAL (PERBUATAN ZAHIR) ADALAH BERKURANGAN HARAPANNYA (SUASANA HATI) TATKALA BERLAKU PADANYA KESALAHAN.

Imam Ibnu Athaillah memulakan Kalam Hikmat beliau dengan mengajak kita merenung kepada hakikat amal. Amal boleh dibahagikan kepada dua jenis iaitu perbuatan zahir dan perbuatan hati atau suasana hati berhubung dengan perbuatan zahir itu. Beberapa orang boleh melakukan perbuatan zahir yang serupa tetapi suasana hati berhubung dengan perbuatan zahir itu tidak serupa. Kesan amalan zahir kepada hati berbeza antara seorang dengan seorang yang lain. Jika amalan zahir itu mempengaruhi suasana hati, maka hati itu dikatakan bersandar kepada amalan zahir. Jika hati dipengaruhi juga oleh amalan hati, maka hati itu dikatakan bersandar juga kepada amal, sekalipun ianya amalan batin. Hati yang bebas daripada bersandar kepada amal sama ada amal zahir atau amal batin adalah hati yang menghadap kepada Allah s.w.t dan meletakkan pergantungan kepada-Nya tanpa membawa sebarang amal, zahir atau batin, serta menyerah sepenuhnya kepada Allah s.w.t tanpa sebarang takwil atau tuntutan. Hati yang demikian tidak menjadikan amalnya, zahir dan batin, walau berapa banyak sekalipun, sebagai alat untuk tawar menawar dengan Tuhan bagi mendapatkan sesuatu. Amalan tidak menjadi perantaraan di antaranya dengan Tuhannya. Orang yang seperti ini tidak membataskan kekuasaan dan kemurahan Tuhan untuk tunduk kepada perbuatan manusia. Allah s.w.t Yang Maha Berdiri Dengan Sendiri berbuat sesuatu menurut kehendak-Nya tanpa dipengaruhi oleh sesiapa dan sesuatu. Apa sahaja yang mengenai Allah s.w.t adalah mutlak, tiada had, sempadan dan perbatasan. Oleh kerana itu orang arif tidak menjadikan amalan sebagai sempadan yang mengongkong ketuhanan Allah s.w.t atau ‘memaksa’ Allah s.w.t berbuat sesuatu menurut perbuatan makhluk. Perbuatan Allah s.w.t berada di hadapan dan perbuatan makhluk di belakang. Tidak pernah terjadi Allah s.w.t mengikuti perkataan dan perbuatan seseorang atau sesuatu.Sebelum menjadi seorang yang arif, hati manusia memang berhubung rapat dengan amalan dirinya, baik yang zahir mahu pun yang batin. Manusia yang kuat bersandar kepada amalan zahir adalah mereka yang mencari faedah keduniaan dan mereka yang kuat bersandar kepada amalan batin adalah yang mencari faedah akhirat. Kedua-dua jenis manusia tersebut berkepercayaan bahawa amalannya menentukan apa yang mereka akan perolehi baik di dunia dan juga di akhirat. Kepercayaan yang demikian kadang-kadang membuat manusia hilang atau kurang pergantungan dengan Tuhan. Pergantungan mereka hanyalah kepada amalan semata-mata ataupun jika mereka bergantung kepada Allah s.w.t, pergantungan itu bercampur dengan keraguan. Seseorang manusia boleh memeriksa diri sendiri apakah kuat atau lemah pergantungannya kepada Allah s.w.t. Kalam Hikmat 1 yang dikeluarkan oleh Ibnu Athaillah memberi petunjuk mengenainya. Lihatlah kepada hati apabila kita terperosok ke dalam perbuatan maksiat atau dosa. Jika kesalahan yang demikian membuat kita berputus asa daripada rahmat dan pertolongan Allah s.w.t itu tandanya pergantungan kita kepada-Nya sangat lemah. Firman-Nya:

“Wahai anak-anakku! Pergilah dan intiplah khabar berita mengenai Yusuf dan saudaranya (Bunyamin), dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat serta pertolongan Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah melainkan kaum yang kafir ”. ( Ayat 87 : Surah Yusuf )


Ayat di atas menceritakan bahawa orang yang beriman kepada Allah s.w.t meletakkan pergantungan kepada-Nya walau dalam keadaan bagaimana sekali pun. Pergantungan kepada Allah s.w.t membuat hati tidak berputus asa dalam menghadapi dugaan hidup. Kadang-kadang apa yang diingini, dirancangkan dan diusahakan tidak mendatangkan hasil yang diharapkan. Kegagalan mendapatkan sesuatu yang diingini bukan bermakna tidak menerima pemberian Allah s.w.t. Selagi seseorang itu beriman dan bergantung kepada-Nya selagi itulah Dia melimpahkan rahmat-Nya. Kegagalan memperolehi apa yang dihajatkan bukan bermakna tidak mendapat rahmat Allah s.w.t. Apa juga yang Allah s.w.t lakukan kepada orang yang beriman pasti terdapat rahmat-Nya, walaupun dalam soal tidak menyampaikan hajatnya. Keyakinan terhadap yang demikian menjadikan orang yang beriman tabah menghadapi ujian hidup, tidak sekali-kali berputus asa. Mereka yakin bahawa apabila mereka sandarkan segala perkara kepada Allah s.w.t, maka apa juga amal kebaikan yang mereka lakukan tidak akan menjadi sia-sia.
Orang yang tidak beriman kepada Allah s.w.t berada dalam situasi yang berbeza. Pergantungan mereka hanya tertuju kepada amalan mereka, yang terkandung di dalamnya ilmu dan usaha. Apabila mereka mengadakan sesuatu usaha berdasarkan kebolehan dan pengetahuan yang mereka ada, mereka mengharapkan akan mendapat hasil yang setimpal. Jika ilmu dan usaha (termasuklah pertolongan orang lain) gagal mendatangkan hasil, mereka tidak mempunyai tempat bersandar lagi. Jadilah mereka orang yang berputus asa. Mereka tidak dapat melihat hikmat kebijaksanaan Allah s.w.t mengatur perjalanan takdir dan mereka tidak mendapat rahmat dari-Nya.
Jika orang kafir tidak bersandar kepada Allah s.w.t dan mudah berputus asa, di kalangan sebahagian orang Islam juga ada yang demikian, bergantung setakat mana sifatnya menyerupai sifat orang kafir. Orang yang seperti ini melakukan amalan kerana kepentingan diri sendiri, bukan kerana Allah s.w.t. Orang ini mungkin mengharapkan dengan amalannya itu dia dapat mengecapi kemakmuran hidup di dunia.Dia mengharapkan semoga amal kebajikan yang dilakukannya dapat mengeluarkan hasil dalam bentuk bertambah rezekinya, kedudukannya atau pangkatnya, orang lain semakin menghormatinya dan dia juga dihindarkan daripada bala penyakit, kemiskinan dan sebagainya. Bertambah banyak amal kebaikan yang dilakukannya bertambah besarlah harapan dan keyakinannya tentang kesejahteraan hidupnya.
Sebahagian kaum muslimin yang lain mengaitkan amal kebaikan dengan kemuliaan hidup di akhirat. Mereka memandang amal salih sebagai tiket untuk memasuki syurga, juga bagi menjauhkan azab api neraka. Kerohanian orang yang bersandar kepada amal sangat lemah, terutamanya mereka yang mencari keuntungan keduniaan dengan amal mereka. Mereka tidak tahan menempuh ujian. Mereka mengharapkan perjalanan hidup mereka sentiasa selesa dan segala-segalanya berjalan menurut apa yang dirancangkan. Apabila sesuatu itu berlaku di luar jangkaan, mereka cepat naik panik dan gelisah. Bala bencana membuat mereka merasakan yang merekalah manusia yang paling malang di atas muka bumi ini. Bila berjaya memperoleh sesuatu kebaikan, mereka merasakan kejayaan itu disebabkan kepandaian dan kebolehan mereka sendiri. Mereka mudah menjadi ego serta suka menyombong.
Apabila rohani seseorang bertambah teguh dia melihat amal itu sebagai jalan untuknya mendekatkan diri dengan Tuhan. Hatinya tidak lagi cenderung kepada faedah duniawi dan ukhrawi tetapi dia berharap untuk mendapatkan kurniaan Allah s.w.t seperti terbuka hijab-hijab yang menutupi hatinya. Orang ini merasakan amalnya yang membawanya kepada Tuhan. Dia sering mengaitkan pencapaiannya dalam bidang kerohanian dengan amal yang banyak dilakukannya seperti berzikir, bersembahyang sunat, berpuasa dan lain-lain. Bila dia tertinggal melakukan sesuatu amal yang biasa dilakukannya atau bila dia tergelincir melakukan kesalahan maka dia berasa dijauhkan oleh Tuhan.

Inilah orang yang pada peringkat permulaan mendekatkan dirinya dengan Tuhan melalui amalan tarekat tasauf.
Jadi, ada golongan yang bersandar kepada amal semata-mata dan ada pula golongan yang bersandar kepada Tuhan melalui amal. Kedua-dua golongan tersebut berpegang kepada keberkesanan amal dalam mendapatkan sesuatu. Golongan pertama kuat berpegang kepada amal zahir, iaitu perbuatan zahir yang dinamakan usaha atau ikhtiar. Jika mereka tersalah memilih ikhtiar, hilanglah harapan mereka untuk mendapatkan apa yang mereka hajatkan. Ahli tarekat yang masih diperingkat permulaan pula kuat bersandar kepada amalan batin seperti sembahyang dan berzikir. Jika mereka tertinggal melakukan sesuatu amalan yang biasa mereka lakukan, akan berkurangan harapan mereka untuk mendapatkan anugerah dari Allah s.w.t. Sekiranya mereka tergelincir melakukan dosa, akan putuslah harapan mereka untuk mendapatkan anugerah Allah s.w.t.
Dalam perkara bersandar kepada amal ini, termasuklah juga bersandar kepada ilmu, sama ada ilmu zahir atau ilmu batin. Ilmu zahir adalah ilmu pentadbiran dan pengurusan sesuatu perkara menurut kekuatan akal. Ilmu batin pula adalah ilmu yang menggunakan kekuatan dalaman bagi menyampaikan hajat. Ia termasuklah penggunaan ayat-ayat al-Quran dan jampi. Kebanyakan orang meletakkan keberkesanan kepada ayat, jampi dan usaha, hinggakan mereka lupa kepada Allah s.w.t yang meletakkan keberkesanan kepada tiap sesuatu itu.
Seterusnya, sekiranya Tuhan izinkan, kerohanian seseorang meningkat kepada makam yang lebih tinggi. Nyata di dalam hatinya maksud kalimat:

Tiada daya dan upaya kecuali beserta Allah.

“Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu!” ( Ayat 96 : Surah as- Saaffaat )
Orang yang di dalam makam ini tidak lagi melihat kepada amalnya, walaupun banyak amal yang dilakukannya namun, hatinya tetap melihat bahawa semua amalan tersebut adalah kurniaan Allah s.w.t kepadanya. Jika tidak kerana taufik dan hidayat dari Allah s.w.t tentu tidak ada amal kebaikan yang dapat dilakukannya. Allah s.w.t berfirman:

“Ini ialah dari limpah kurnia Tuhanku, untuk mengujiku adakah aku bersyukur atau aku tidak mengenangkan nikmat pemberian-Nya. Dan (sebenarnya) sesiapa yang bersyukur maka faedah syukurnya itu hanyalah terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa yang tidak bersyukur (maka tidaklah menjadi masalah kepada Allah), kerana sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, lagi Maha Pemurah”. ( Ayat 40 : Surah an-Naml )

Dan tiadalah kamu berkemahuan (melakukan sesuatu perkara) melainkan dengan cara yang dikehendaki Allah; sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana





(mengaturkan sebarang perkara yang dikehendaki-Nya). Ia memasukkan sesiapa yang kehendaki-Nya (menurut aturan yang ditetapkan) ke dalam rahmat-Nya (dengan ditempatkan-Nya di dalam syurga); dan orang-orang yang zalim, Ia menyediakan untuk mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnya. ( Ayat 30 & 31 : Surah al-Insaan )
Segala-galanya adalah kurniaan Allah s.w.t dan menjadi milik-Nya. Orang ini melihat kepada takdir yang Allah s.w.t tentukan, tidak terlihat olehnya keberkesanan perbuatan makhluk termasuklah perbuatan dirinya sendiri. Makam ini dinamakan makam ariffin iaitu orang yang mengenal Allah s.w.t. Golongan ini tidak lagi bersandar kepada amal namun, merekalah yang paling kuat mengerjakan amal ibadat.
Orang yang masuk ke dalam lautan takdir, reda dengan segala yang ditentukan Allah s.w.t, akan sentiasa tenang, tidak berdukacita bila kehilangan atau ketiadaan sesuatu. Mereka tidak melihat makhluk sebagai penyebab atau pengeluar kesan.
Di awal perjalanan menuju Allah s.w.t, seseorang itu kuat beramal menurut tuntutan syariat. Dia melihat amalan itu sebagai kenderaan yang boleh membawanya hampir dengan Allah s.w.t. Semakin kuat dia beramal semakin besarlah harapannya untuk berjaya dalam perjalanannya. Apabila dia mencapai satu tahap, pandangan mata hatinya terhadap amal mula berubah. Dia tidak lagi melihat amalan sebagai alat atau penyebab. Pandangannya beralih kepada kurniaan Allah s.w.t. Dia melihat semua amalannya adalah kurniaan Allah s.w.t kepadanya dan kehampirannya dengan Allah s.w.t juga kurniaan-Nya. Seterusnya terbuka hijab yang menutupi dirinya dan dia mengenali dirinya dan mengenali Tuhannya. Dia melihat dirinya sangat lemah, hina, jahil, serba kekurangan dan faqir. Tuhan adalah Maha Kaya, Berkuasa, Mulia, Bijaksana dan Sempurna dalam segala segi. Bila dia sudah mengenali dirinya dan Tuhannya, pandangan mata hatinya tertuju kepada Kudrat dan Iradat Allah s.w.t yang menerajui segala sesuatu dalam alam maya ini. Jadilah dia seorang arif yang sentiasa memandang kepada Allah s.w.t, berserah diri kepada-Nya, bergantung dan berhajat kepada-Nya. Dia hanyalah hamba Allah s.w.t yang faqir

Minggu, 19 Juli 2009

Lanjutan Mencari Ilmu Adalah Wajib

Keistimewaan Ruh Insani

Ketahuilah bahawa Allah Taala menjadikan manusia ini terdiri daripada dua suatu yang berbeza iaitu:

isim yang gelap, tebal, termasuk di bawah kejadian dan kebinasaan (Al-Kun Wal-Fasad) yang tersusun, bersifat ketanahan yang tidak dapat melaksanakan urusannya melainkan dengan yang lain.

Jiwa Jauhari yang tunggal yang bercahaya, mencapai, bertindak lagi menggerakkan dan menyempurnakan alat-alat (alat-alat dalam badan manusia baik yang bersifat ruhaniah seperti Ruh Haiwani, Ruh Tobie dan lain-lain atau bersifat jasmaniah seperti otak dan bahagian-bahagiannya dan lain-lainnya.

Allah Taala menyusun jasad-jasad dari bahagian-bahagian makanan dan menjaganya dengan bahagian-bahagian zat makanan yang lebur menyerap ke dalam jasad, menyediakan asas, menyempurnakan anggota-anggota penting, menentukan anggota-anggota kaki dan tangan dan melahirkan jauhar jiwa dari urusan yang tunggal, sempurna menyempurna lagi memberi faedah.

Bukanlah saya(Imam Ghazali) maksudkan 'jiwa' itu kekuatan untuk mendapatkan makanan;

Ø bukan kekuatan yang menggerakkan syahwat (Al-Nafsu) dan kemarahan;

Ø bukan kekuatan yang berada dalam jantung(Al-Kolbu) yang melahirkan hidup, menimbulkan rasa dan gerak dari jantung kepada seluruh anggota, kerana kekutan ini dinamakan 'Ruh Haiwani'.

Rasa, gerak, syahwat adalah dari tentera Ruh Haiwani ini.

Kekuatan mendapatkan makanan yang berada dan menguruskan dalam hati(Al-Kabad) dinamakan 'Ruh Tobie.' Pencernaan dan penolakan adalah daripada sifat-sifatnya. Kekuatan merupa, melahir, menyubur dan lain-lain kekuatan tobie semuanya menjadi khadam-khadam bagi jasad dan jasad pula adalah khadam kepada Ruh Haiwani, kerana jasad menerima kekuatan-kekuatan dari Ruh Haiwani dan bekerja menurut geraknya.

Sebenarnya yang saya maksudkan dengan 'JIWA' itu ialah JAUHAR YANG SEMPURNA LAGI TUNGGAL (Al-Jauhar Al-Kamil Al-Mufrad) yang kerjanya hanya

Ø mengingat

Ø menghafaz

Ø memikir membeda dan

Ø mengamat-amati; juga

Ø menerima segala ilmu dan

Ø tidak jemu-jemu menerima rupa-rupa abstrak yang bersih dari benda.

Jauhar ini adalah ketua segala ruh dan raja. Segala kekuatan semuanya berkhidmat kepada jauhar ini dan menjunjung perintahnya. Jauhar ini tidak lain tidak bukan dari JIWA BERAKAL (Al-Nafs An-Naathokoh) yang diberikan berbagai-bagai nama. Para ahli falsafah menamakan jauhar ini sebagai JIWA BERAKAL(Al-Naf An-Naathokah).Al-Quran menamakannya sebagai JIWA YANG TENANG(Al-Nafsul Mutomainnah). Al-Quran juga menamakannya sebagai RUH URUSAN (Al-Ruh Al-Amri). Ahli Tasauf menamakannya sebagai QALBU(Al-Qalbi). Perbezaan cuma pada segi nama-nama sahaja tetapi ertinya satu, tidak ada perselisihan. Oleh itu 'QALBU' dan 'RUH' pada kita juga 'YANG TENANG' semua nama-nama itu adalah bagi 'JIWA BERAKAL' (Al-Nafs Al-Naathokoh). Jiwa berakal ialah 'Jauhar yang Hidup', 'aktif', lagi mencapai kalau disebut Ruh Mutlak atau Qalbu. Maksudnya ialah jauhar ini juga.

Ahli-ahli Tasauf menamakan 'Ruh Haiwani' pula dengan nafsu. Syarak juga memberikan pengertian yang sama sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud:

"Musuh engkau yang paling ketat ialah nafsu engkau".

Baginda bersabda lagi dengan maksud:

"Nafsu engkau ialah yang terletak di antara dua pihak".

Perkataan nafsu yang dimaksudkan oleh syara di sini ialah kekuatan 'syahwaaniah' dan kemarahan kerana kedua-duanya muncul dari jantung yang terletak di antara dua pihak(dari tubuh manusia).

Bila kamu telah paham dan mengetahui perbedaan nama-nama itu bahawa para pengkaji memberikan nama yang bermacam-macam terhadap Jauhar yang bernilai ini dan mengemukakan pendapat-pendapat yang berbeda. Para ahli Ilmu Kalam yang pandai dalam debat menganggap jiwa itu sebagai suatu jisim dan menyatakan bahawa ia adalah jisim yang halus sebagai tantangan bagi jisim yang tebal ini. Mereka hanya melihat perbedaan di antara ruh dan jasad dari segi kehalusan dan ketebalan saja.

Sebagian dari mereka menganggap ruh sebagi 'aradh. Sebagian daripada ahli-ahli kedokteran cenderung ke arah pendapat ini. Ada pula yang menganggap darah sebagai ruh.

Mereka semua merasa puas hati dengan pendapat mereka kerana dipengaruhi oleh kecantikkan pandangan dan mereka 'TIDAK BERUSAHA' mencari bagian ketiga sedangkan sebenarnya ada tiga bahagi yaitu Jisim, Aradh dan 'Al-Jauhar-Al-Mufrad'. Ruh Haiwani ialah jisim yang halus seolah-olah lampu menyala terletak dalam kaca jantung. Jantung yang dimaksudkan di sini ialah rangka sanubari yang tergantung pada dada manusia. Hidup adalah lampu tersebut,

Ø Darah ialah minyaknya,

Ø Rasa dan gerak merupakan nurnya,

Ø Syhwat ialah kepanasannya,

Ø Kemarahan ialah wapnya,

Ø Kekuatan mencari makanan yang berada di dalam hati merupakan khadam atau penjaganya dan wakilnya.

Ruh ini terdapat pada segala binatang. Ruh ini tidak menerima ilmu dan tidak mengetahi soal yang berhubung dengan alam dan tidak mengetahui hak-hak Pencipta Alam. Ia hanya merupakan khadam yang terikat. Ia mati bersama dengan matinya badan. Jika bertambah darah, padam lampu itu kerana bertambah kepanasan dan sebaliknya jika berkurangan darah, ia akan padam juga kerana bertambah kesejukan. Padamnya menjadi sebab bagi matinya badan. Tidak ada 'khitob Tuhan' yaitu (perkataan-perkataan Tuhan yang lazim yang dihadapkan kepada orang-orang mukallaf berhubung dengan perbuatan-perbuatan mereka) dan tidak ada 'takhlif' (pemikul tanggungjawab yang diamanahkan dari Allah melalui hukum syarak yang lima) tuan punya syara terhadap ruh ini. Kerana inilah segala binatang tidak termasuk ke dalam makhluk-makluk yang menerima 'khitob' dengan hukum-hukum syara.

Manusia sebenarnya 'ditakhlif' dan 'dikhitob' kerana suatu makna yang lain terdapat padanya sebagai suatu tambahan yang dikhaskan untuknya. Maknanya ialah pada manusia ada 'JIWA YANG BERAKAL' (Al-Nafs-An-Naatokoh), 'RUH URUSAN'(Ruhul-Amri) dan 'JIWA YANG TENANG'(Al-Nafsul Muthomainnah).

Ruh ini bukanlah jisim dan bukanlah 'aradh', kerana ia datang dari urusan Allah Taala sebagaimana firmannya yang bermaksud:

'Katakanlah hai Muhammad bahawa Ruh itu adalah urusan Tuhanku.

(Surah Al-Israk ayat 85)

Allah berfirman lagi yang bermaksud:

'Hai Jiwa yang Tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan redho dan diredhoi." (Surah Al-Tahrim ayat 12)

Urusan Allah bukanlah berupa jisim dan bukan pula 'aradh', malahan ia adalah suatu kekuatan 'ILAHIYAH' seperti 'AKAL YANG PERTAMA' (Al-'Aklul-Awal), Luh dan Qalam. Kekuatan Ilahiyah adalah Jauhar-Jauhar Tunggal yang bukan dari benda, malah ia merupakan sinar-sinar abstrak yang dapat dipahami oleh akal (Ma'quulah). Bukan boleh dirasa. Apa yang kita sebut sebagai ruh dan Qalbu adalah dari Jauhar-Jauhar itu. Ia

Ø tidak rusak

Ø tidak layu

Ø tidak binasa

Ø tidak mati bahkan;

Ø ia terpisah dari badan dan menantikan perkembaliaan pada hari kiamat

sebagaimana yang dinyatakan dalam syara dan telah disahkan dalam ilmu-ilmu 'HIKMAH' (Falsafah) dengan alasan-alasan yang tidak dapat ditolak lagi. Buktinya yang nyata menunjukkan bahawa 'RUH YANG BERAKAL' bukanlah jisim dan bukanlah 'aradh, malah ia adalah JAUHAR yang sabit(nyata) lagi kekal tiadak binasa. Di sini rasanya tidak perlu lagi kita menyebut alasan-alasan dan membentangkan dalil-dalil kerana telah dibuat dan disebut orang. Siapa yang mau mengesahkannya silahkan lihat kitab-kitab yang baik mengenai ilmu ini. Cara kita memberi uraian dalam risalah ini bukanlah dengan mengemukakan alasan, malah dengan berpegang pada apa yang telah dialami menerusi 'PENGLIHATAN YANG YAKIN DAN PENGLIHATAN IMAM.' Allah Taala ada menghubungkan ruh kepada urusan dan kadang-kadang kepada 'IZAH'Nya(zat yang tiada boleh dicapai dengan akal dan fikiran) dengan firmanNya yang bermaksud:

'Dan Aku(Allah) tiupkan padanya ruh dariKU' (Surah Al-Hijr ayat 39).

dan firmanNya lagi yang bermaksud:

'Katakanlah (hai Muhammad) bahawa ruh itu adalah urusan tuhanku' (Al-Israk ayat 85)

dan firmanNya lagi yang bermaksud:

'Lalu kami tiupkan padanya dari ruh kami.'(Surah Al-Tahrim ayat 12)

Bila ruh itu dihubungkan oleh Allah Taala kepada diriNya tentulah ia bukan jisim atau A'radh kerana rendah tingkat kedua-duanya, selalu berubah-ubah dan cepat hilang serta akan rusak. Rasulullah S.W.T. bersabda yang bermaksud:

"Ruh-ruh adalah sebagai tentara yang lengkap"

dan dalam sabda Baginda yang lain lagi Beliau menyatakan:

"Ruh para syuhadah terletak dalam bayang-bayang burung-burung hijau."

Begitu juga dengan A'radh tidak kekal selepas hilangnya jauhar kerana A'radh tidak boleh berdiri dengan zatnya sendiri. Manakala jisim menerima peleburan kembali sebagaimana asalnya sebelum penyusunan dari benda (Al Madah) dan rupa seperti yang tersebut dalam kitab-kitab (kitab-kitab falsafah).

Setelah kita mengetahui ayat-ayat, hadis-hadis dan alasan-alasan akal, ketahuilah kita bahawa ruh itu adalah JAUHAR MUFRAD YANG SEMPURNA (Al-Jauharul Mufrad Al-Kamil) hidup dengan zatnya, baik dan buruknya agama adalah datang daripadanya, manakala ruh Tobie dan Ruh Haiwani dan kekuatan badaniah seluruhnya daripada tentara Jauhar Mufrad Yang Sempurna ini.

Jauhar ini menerima rupa-rupa maklumat dan hakikat maujudah (sesuatu yang wujud di alam ini) dengan tidak diganggui oleh ain-ain dan peribadinya kerana jiwa berkuasa mengetahui hakikat manusia tanpa melihat peribadi (manusia) itu sendiri; begitu juga ia mengetahui malaikat dan syaitan-syaitan dengan tidak perlu melihat peribadi-peribadi mereka. Ini adalah kerana kedua-dua jenis makhluk itu tiada dapat dicapai oleh deria-deria kebanyakan orang.

Satu golongan ahli tasauf berkata bahawa ' Qalbu ' mempunyai dua mata, serupa juga dengan dua mata bagi jasad ini. Jasad dapat melihat benda-benda yang zahir dengan mata-mata zahir dan Qalbu melihat hakikat dengan mata akal. Rasulullah S.W.T. bersabda yang bermaksud:

'Tiada ada seorang hambapun melainkan Qalbunya mestilah mempunyai dua mata.'

Dengan kedua-dua mata ini dapatlah dicapai apa yang ghaib. Bila Allah Taala hendak memberikan kebaikan kepada hambanya, ia bukakan dua mata Qalbunya supaya dapat melihat sesuatu yang ghaib dari pemandangan mata lahirnya. Roh ini tidaklah mati dengan matinya badan kerana Allah Taala menyerunya supaya kembali kepadaNya dengan firmanNya yang bermaksud:

'Kembalilah kepada Tuhanmua' (Surah Al Fajr Ayat 28).

Sebenarnya ruh ini hanya bercerai dan berpaling dari badan. Oleh kerana berpaling ini maka kakulah segala yang bersangkut dengan kekuatan-kekuatan Haiwaniah dan Tabii'yah. Maka diamlah yang bergerak itu dan dikatakan kepada yang diam itu, ialah MATI.

Ahli-ahli Thorikat atau ahli Tasauf lebih banyak berpegang pada roh dan Qalbu dari berpegang pada peribadi. Apabila roh itu dari urusan Allah Taala, maka beradanya dalam badan adalah sebagai orang dagang. Mukanya mengarah pada asalnya dan tempat datangnya. Ia dapat mengambil faedah-faedah dari pihak asalnya lebih banyak dari apa yang ia dapat dari pihak peribadi bila ruh itu kuat dan tidak dikotori oleh kekotoran-kekotoran tabiat.

Bila anda mengetahui ruh adalah Jauhar Mufrad dan mengetahui pula jasad memerlukan ruang dan A'Radh maka selain dari ini tidak ada lagi melainkan Jauhar. Ketahuilah bahawa Jauhar ini tidak menempati pada sesuatu tempat dan tidak mendiami pada sesuatu ruang. Bukanlah badan adalah ruang bagi ruh dan bukan pula tempat bagi Qalbu malahan badan adalah alat ruh, alat Qalbu dan kenderaan jiwa. Zat ruh sendiri tidak bersambung dengan bahagian-bahagian badan dan tidak berpisah daripadanya bahkan ia menhadap kepada badan, memberi faedah dan melimpah kepadanya.

Mula-mula lahir nur ruh pada otak kerana otak tempat kenyataan yang khas.

Ø Pada bahagian depannya ia menjadi penjaga

Ø Pada bahagian tengahnya ia menjadi menteri dan pentadbir

Ø Pada bahagian belakangnya ia menjadi perbendaharaan. Ahli perbendaharaan dan seluruh bahagian manjadi kakitangan dan kenderaan

Ø Roh Haiwani menjadi khadam

Ø Roh Tobie menjadi wakil

Ø Badan menjadi kenderaan

Ø Dunia menjadi medan

Ø Hayat menjadi barang (modal)

Ø Gerak menjadi perniagaan

Ø Ilmu menjadi keuntungan

Ø Hari akhirat menjadi matlamat dan tempat pulang

Ø Syarak menjadi jalan dan cara

Ø Terhadap jiwa pendorong kejahatan (nafsu Amarah) menjadi penjaga dan pemerhati

Ø Terhadap jiwa pengkritik (nafsu Lawamah) ia menjadi penyedar.

Ø Pancaindera menjadi pengikut-pengikut dan pembantu.

Ø Agama menjadi penghalang

Ø Akal menjadi mahaguru

Ø Rasa pancaindera menjadi murid

Ø Ar-Robh (Allah) menjadi pemerhati

Jiwa dengan sifat-sifat ini bersama dengan alat-alat ini tidak mengarah kepada peribadi yang tebal ini dan tidak berhubung dengan zatnya, malahan ia mengarah kepada Tuhannya dan Tuhannya memerintahkannya supaya mengambil kesempatan mendapatkan sesuatu yang berguna hingga kepada satu tempoh yang tertentu.

Oleh itu ruh tidaklah menumpukan pemerhatian ke arah memikirkan yang lain dalam masa perjalanan (hidup di atas dunia) ini, melainkan berusaha mencari ilmu untuk menjadi perhiasan di dalam negeri akhirat. Ini adalah kerana perhiasan harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia sahaja sebagaimana mata menumpukan pemerhatian ke arah mendengar suara-suara, lidah siap sedia untuk menyusun kata-kata, Ruh Haiwani tunduk kepada keenakkan marah, Ruh Tobie cintakan kelazatam makan dan minum, maka ruh yang tenang (AL-Ruh Al-Muthomainnah) ertinya Qalbu tidak menghendaki apa-apa selain daripada ilmu dan tidak gemarkan sesuatupun selain daripada ilmu. Ia belajar dan belajar sepanjang usianya. Ia menghiasi dirinya dengan ilmu dalam seluruh zaman hingga waktu bercerainya dari badan. Jika ia menerima sesuatu yang lain daripada ilmu, maka penerimaannya ini cuma untuk kepentingan badan, bukan untuk kepentingan dirinya dan kecintaan asalnya. Bila anda telah mengetahui hal ehwal ruh, kekalannya yang berterusan, kecintaannya dan pemerhatiannya kepada ilmu maka patutlah anda mengetahui pula tentang jenis-jenis ilmu.

Jumat, 12 Juni 2009

Sholawat


amalkanlah pembaca yang budiman sholawat ini demi melanggengkan dan mengharapkan syafaat rosulullah saw

Rabu, 03 Juni 2009

BELAJAR ITU SESUNGGUHNYA WAJIB

Teori Ilmu Tasauf

Pengertian Ilmu yang digunakan oleh Hujjatul Islam Imam Ghazali dalam sebuah kitabnya yang bernama Al-Risalatul-liduniyyah adalah seperti berikut :

Ø AL-ULUM AL-MAKTASABAH yang bermaksud ilmu-ilmu yang didapati dengan mencurahkan usaha seperti belajar dan membuat kajian. Dengan kata lainnya ialah ilmu-ilmu yang didapati dengan senang (Al-Ulum Al-Dhoruriyah) maksudnya ilmu-ilmu yang didapati dengan mudah sahaja menerusi salah satu daripada anggota-anggota pancaindera seperti rasa manis melalui lidah, mendengar suara melalui telinga dan lain-lainnya.

Ø Ilmu GHAIBI LADUNI atau lebih ringkasnya disebut sebagai ilmu laduni yang membawa maksud secara hurfinya 'ILMU KESISIAN' iaitu ilmu disisi tuhan. Sama dengan ILMU ALLAH atau ILMU TUHAN.

Sesetengah ahli ilmuan Islam memberikan atau menggunakan berbagai-bagai istilah lain yang sama maksudnya dengan ilmu LADUNI ini dalam usaha mereka untuk mengemukakan pendekatan ilmu masing-masing. Antaranya ialah seperti berikut :

Ø Ilmu Batin
Ø Ilmu Qalbi
Ø Ilmu Mukasafah
Ø Ilmu Asyror
Ø Ilmu Maknun
Ø Ilmu Hakikat
Ø Ilmu Makrifat
Ø Ilmu Tasauf

Telah banyak ulama-ulama atau ilmuan zohir terkelincir kerana mereka membantah dan menidakkan ilmu laduni ini. Kita lihat bagaimana satu catatan hal tersebut yang dikemukakan oleh Iman Ghazali yang mengatakan:

" Seorang daripada kawan-kawanku telah menceritakan kepadaku mengenai seorang alim yang mengingkari ILMU GHAIBI LADUNI yang menjadi pegangan pemimpin-pemimpin tasauf dan tumpuan ahli-ahli thorikat yang berpendapat bahawa ilmu laduni adalah lebih kuat dan lebih tepat dari ilmu-ilmu yang didapati dengan usaha yang didapati dengan belajar. Kawanku juga mengatakan bahawa orang alim itu berkata bahawa aku fikir tidak ada seorang pun dalam dunia ini yang boleh memperkatakan tentang ilmu yang sebenar dengan fikiran semata-mata tanpa belajar dan tanpa usaha-usaha untuk mendapatkannya. Aku (Ghazali) berkata seolah-olah orang itu tidak tahu tentang cara-cara untuk mendapatkan ilmu dan tidak tahu pula kerja ' JIWA INSANI ', KEMURNIAANNYA DAN CARA-CARA PENERIMAAN DARI ALAM GHAIB DAN ILMU ALAM MALAKUT."
Berkata lagi Imam Ghazali.....

Sesungguhnya mereka yang hanya menganggap ilmu kalam seperti fekah , tafsir dan sebagainya sebagai satu-satunya ilmu yang mampu diperolehi oleh manusia adalah merupakan mereka yang telah menyimpang dari method hakikat kerana Al-Salmi ( Abdul Rahman Muhammad bin Al-Husain bin Musa Al-Azdi Al-Salmi seorang ahli tasauf, ahli sejarah, ahli hadis dan hadis tafsir yang telah menulis sebuah kitab tafsir yang bernama 'Aqa'ik Al-Tafsir/ Wafat tahun 1021=412 Hijrah) telah mengumpulkan sesuatu dalam tafsirnya yang diambil dari kata-kata orang-orang muhaqiqin, sedangkan kata-kata itu tidak tersebut dalam semua kitab tafsir yang ada. Kata Ghazali lagi . Ahli tafsir tepi jalan ini seolah-olah tidak tahu :

Ø Bahagian-bahagian ilmu
Ø Perincian-perinciannya
Ø Tingkat-tingkatnya
Ø Kenyataan-kenyataannya dan
Ø Batin-batinnya.

Memang sudah menjadi adat bahawa orang-orang yang jahil dalam sesuatu akan mengingkari sesuatu itu dan orang yang tersebut itu tidak pernah merasai MINUMAN HAKIKAT dan tidak mengetahui mengetahui mengenai tentang Ilmu Laduni.
Definisi Ilmu Dan Kegunaannya

Ketahuilah bahawa ILMU(Pengetahuan) ialah konsep(tasawwur) jiwa berakal yang tenang(Al-Nafsunathokhotul Muthomainnah) terhadap hakikat-hakikat sesuatu (hakho-ikul-asyaai) dan rupa-rupanya(suuraha) yang bersih dari benda-benda dengan 'ainnya(a'yaanaha), kualiti-kualitinnya(kaifayaataha), kuantiti-kuantitinya(kamayaataha), jauhar-jauharnya(jawaaharoha), dan zat-zatnya(zawaataha), kalau ia adalah tunggal (mufrad).
A'LIM ialah orang yang mengetahui ialah orang yang meliputi, mencapai, lagi mempunyai konsep; manakala "MA'LUM" (apa yang diketahui) ialah zat sesuatu yang terukir ilmunya pada jiwa.

Kemuliaan ilmu itu menurut ukuran kemuliaan maklumat dan darjah seseorang alim itu adalah menurut darjah ilmunya. Tidak ragu-ragu lagu bahawa di antara maklumat yang paling utama, paling tinggi, paling mulia dan paling besar ialah Allah Pencipta, Al-Haq yang tunggal, ilmu yang berhubung dengannya, ilmu tauhid adalah ilmu yang paling utama, paling besar dan paling sempurna. Ilmu ini adalah sesuatu kepastian. WAJIB mengetahuinya atas sekalian yang berakal sebagaimana sabda rasulullah SAW. yang bermaksud:
"Menuntut ilmu adalah fardu atau tiap-tiap orang Islam".
Dan baginda rasulullah menyuruh mencari ilmu ini dengan sabdanya yang bermaksud
"Carilah ilmu meskipun dinegeri Cina".
Orang-orang yang mempunyai ilmu tauhid ini adalah yang paling utama di antara ulama-ulama lain. Sebab inilah Allah Taala menyebut mereka ini secara istimewa pada tingkat yang tertinggi sebagaimana firmannya yang bermaksud:
"Allah telah terangkan bahawa tidak ada tuhan melainkan Dia yang berdiri dengan keadilan dan disaksikan oleh malaikat dan ahli-ahli ilmu."(Surah Al-Imran, ayat 18).
Oleh itu ulama-ulama ilmu tauhid secara umumnya adalah Nabi-nabi, selepas mereka barulah ulama-ulamayang menjadi ahli waris Nabi-nabi. Ilmu Tauhid ini meskipun mulia dan sempurna pada dirinya, ia tidak menolak lain-lain ilmu, malah ia tidak akan terdapat tanpa bahan-bahan yang banyak dan bahan-bahan ini tidak kan teratur jika tidak dari pertolongan berbagai-bagai ilmu seperti ilmu-ilmu langit dan falak-falak(astronomi dan kosmologi) dan ilmu seluruh ciptaan. Dari Ilmu Tauhid lahir pula ilmu-ilmu lain seperti yang akan kami(Imam Ghazali) akan sebutkan bahagian-bahagiannya pada tempat-tempatnya.

Ketahuilah bahawa ilmu itu sendiri adalah mulia tanpa memandang kepada aspek ma'lum, hingga ilmu sihir adalah mulia pada dirinya meskipun ianya palsu. Ini adalah kerana ilmu lawanya kejahilan dan kejahilan adalah dari kelaziman-kelaziman kegelapan dan kegelapan termasuk dalam lingkungan diam dan diam itu hampir dengan tidak wujud. Kepalsuan dan kesesatan termasuk dalam bahagian ini. Oleh itu kejahilan itu hukumnya adalah hukum tidak wujud, manakala ilmu hukumnya adalah hukum wujud dan wujud itu lebih baik daripada tidak wujud. Hidayah kebenaran dan cahaya semuanya termasuk dalam lingkungan wujud. Apabila wujud lebih tinggi daripada tidak wujud maka tentulah ilmu lebih tinggi daripada kejahilan, kerana kejahilan serupa dengan kebutaan dan kegelapan, manakala ilmu serupa dengan penglihatan dan cahaya. TIDAKLAH SAMA ORANG BUTA DENGAN ORANG YANG MELIHAT, juga tidaklah sama gelap dengan cahaya. Allah Taala telah menerangkan mengenai ini dengan firmannya yang bermaksud;
"Katakankanlah(hai Muhammad) adakah sama mereka yang tahu dan mereka yang tidak tahu?".(Surah Az-Zumar ayat 9).
Berdasarkan perbandingan di atas dapatlah pula dikatakan bahawa KEJAHILAN adalah dari kelaziman-kelaziman jisim, manakala ILMU adalah daripada sifat-sifat JIWA. Oleh itu JIWA LEBIH MULIA DARIPADA JISIM.
Ilmu terbahagi kepada beberapa bahagian yang banyak. kita akan menyatakan satu persatu dalam fasal yang lain, sedangkan seorang alim mempunyai berbagai-bagai cara untuk mendapatkan ilmu itu juga kami akan sebutkan dalam fasal yang lain. Yang perlu bagi anda sekarang selepas mengetahui keutamaan ilmu ialah mengetahui bahawa JIWA YANG MERUPAKAN LUH SEGALA ILMU DAN TEMPATNYA. Jisim bukanlah sesuai untuk tempat ilmu kerana jisim adalah terbatas dan tidak dapat dimuati oleh banyak ilmu, malah ia hanya dapat menanggung ukiran-ukiran dan gurisan-gurisan sahaja, sedangkan JIWA MENERIMA ILMU TANPA SEMPIT, SESAK, JEMU DAN HILANG. Sekarang kita akan memperkatakan tentang jiwa secara ringkas.

Imam Ghazali memulakan perbincangannya dengan memberikan pengertian tentang "ILMU". Kemudian beliau menyatakan bahawa kemuliaan ilmu itu terletak kepada kemuliaan "maklumat". Jika maklumat mulia maka ilmu itu pun turut mulia. Di antara semua maklumat, maka Allah Taala lah yang paling mulia. Sebab itu ilmu yang membicarakan tentang Allah Taala adalah ilmu yang paling tinggi dan mulia. Ilmu ini ialah Ilmu Tauhid.



Mudah-mudahn kami dapat meneruskan karya kami, mohon dukungan dan kritikan buat kami.
Akhirnya selaku penulis kami mohon maaf apabila masih banyak sekali penulisan yang kurang layak untuk dibaca

Wasssalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Selasa, 05 Mei 2009

kenalan ma lambang


inilah lambang riyadlatul qolby

Rabu, 29 April 2009

Silsilah Torikoh Abah Asrori Al-Ishaqi


Hadrotusy Syeikh Ahmad Asrory Al IshaqiMursid Thoriqoh Qodiriyyah Wa Naqshabandiyyah
Kelurahan Kedinding Lor termasuk Kotamadya Surabaya. Di atas tanah kurang lebih 3 hektare ini dilakukan pengembangan Pesantren Al Fitrah, diasuh Kiai Ahmad Asrori, Al Ishaqi putra Kiai Utsman Al-Ishaqi. Namanya dinisbatkan pada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri. Kiai Utsman berputra 13 orang.
Kiai Utsman adalah murid Kiai Ramli Tamim. Ia dibaiat sebagai mursyid bersama Kiai Makki Karangkates Kediri dan Kiai Bahri Mojosari Mojokerto.
Kiai Utsman mengembangkan tarekat di Kedinding Lor Surabaya. Penerusnya Kiai Ahmad Asrori. Dikembangkan kegiatan khushushiyah setiap Ahad pertama bulan Hijriyah di Jatipurwo dan Ahad kedua di Kedinding Lor. Pengikut kegiatan bisa mencapai rata-rata 4.000 orang (lebih banyak dari Rejoso dan Cukir ang jumlah rata-rata 1.000 orang).Dalam perkembangannya penerus Tarekat Kedinding Lor, Kiai Hilmi Ahmad, mengemukakan sikap pendirinya, bahwa tarekatnya netral, tidak memihak salah satu organisasi sosial politik manapun. Alasannya, kegiatan tarekat untuk ibadah, dzikir kepada Allah, taqarrub kepada Allah.
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.QS. Al Mujaadalah {58] : 11
41. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Ahmad Asrori Al IshaqiBertalqin dan berbai’at dari :40. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Muhammad ‘Utsman bin Nadiy Al IshaqiBertalqin dan berbai’at dari :39. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abi Ishamuddiyn Muhammad Romliy At TamimimiyBertalqin dan berbai’at dari :38. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Kholil RejosoBertalqin dan berbai’at dari :37. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Hasbullaah MaduraBertalqin dan berbai’at dari :36. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Ahmad Khothib As SambasiyBertalqin dan berbai’at dari :35. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh SyamsuddiynBertalqin dan berbai’at dari :34. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh MurodBertalqin dan berbai’at dari :33. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abdul FattaahBertalqin dan berbai’at dari :32. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh KamaluddiynBertalqin dan berbai’at dari :31. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh UtsmanBertalqin dan berbai’at dari :30. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abdur RohiymBertalqin dan berbai’at dari :29. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abu BakarBertalqin dan berbai’at dari :28. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh YahyaBertalqin dan berbai’at dari :27. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh ChisamuddiynBertalqin dan berbai’at dari :26. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh WaliyuddiynBertalqin dan berbai’at dari :25. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh NuruddiynBertalqin dan berbai’at dari :24. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh ZainuddiynBertalqin dan berbai’at dari :23. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh SyarofuddiynBertalqin dan berbai’at dari :22. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh SyamsuddiynBertalqin dan berbai’at dari :21. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Muhammad Al HatakiBertalqin dan berbai’at dari :20. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abdul ‘AziyzBertalqin dan berbai’at dari :19. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abdul Qodir Al JiylaniBertalqin dan berbai’at dari :18. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abu Sa’id Al MubarrokBertalqin dan berbai’at dari :17. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abu Hasan Ali Al HakariyBertalqin dan berbai’at dari :16. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abul Faraj Al ThurthusiyBertalqin dan berbai’at dari :15. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abdul Wahid Al TamimiBertalqin dan berbai’at dari :14. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abu Bakar As ShibliyBertalqin dan berbai’at dari :13. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abdul Qosim Junaiyd Al BaqhdadiyBertalqin dan berbai’at dari :12. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Sari As SiqthiBertalqin dan berbai’at dari :11. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Al Ma’ruf Al KarkhiBertalqin dan berbai’at dari :10. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abul Hasan Ali RidloBertalqin dan berbai’at dari :9. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Musa KadziymBertalqin dan berbai’at dari :8. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Ja’far As ShodiyqBertalqin dan berbai’at dari :7. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Imam Muhammad BaqirBertalqin dan berbai’at dari :6. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Zainul AbiddiynBertalqin dan berbai’at dari :5. Al Arif Billaah Sayyidina Husain RodliyallaaHhu ‘anhuBertalqin dan berbai’at dari :4. Al Arif Billaah Sayyidina Ali Karromallaahu WajhahuBertalqin dan berbai’at dari :Sayyidil Mursaliyn wa Habiybi Robbil ‘aalamiyn, Rosul utusan Allaah kepada sekalian kepada Makhluk, yakni Sayyidina Muhammad SAW 3. RosuulullaaHh Muhammad SAWBertalqin dan berbai’at dari :2. Sayyidina Jibril Alaihis-salamBertalqin dan berbai’at dari :1. Allah SWT
ya Allah semoga engkau selalu berikan kesihatan untuk beliau

Rabu, 22 April 2009

NILAI-NILAI PUASA MENUJU FITRAH

Oleh : Bapak Asykuri Alwi
Diposkan lagi oleh : RQ

”Hai Orang-orang yang beriman ! Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa” (QS Al Baqarah : 183)

Makna dari ayat diatas adalah perintah dari Allah SWT, yang ditujukan bagi orang yang beriman agar berpuasa dibulan ramadhan setiap tahun. Arti puasa itu sendiri ialah menahan diri dari makan dan minum dan menahan nafsu syahwat atau segala yang membatalkan puasa. Dari sejak terbitnya fajar sidik sampai terbenamnya matahari di ufuk barat sana. Dengan niat menunaikan perintah Allah.
Namun ada rukhsoh (Keringanan) bagi orang yang sakit atau dalam perjalanan, dibolehkan tidak berpuasa dengan menggantinya dihari yang lain. Untuk orang yang amat berat baginya mengerjakan puasa, seperti orang yang lanjut usianya, perempuan hamil dan perempuan yang menyusukan anaknya. Dibolehkan tidak berpuasa dengan diwajibkan membayar fidyah, memebri makan seprang miskin setiap hari selama dia berbuka puasa. Puasa merupakan ibadah yang sifatnya manahan diri. Sesungguhnya memberikan pendidikan yang dalam bagi moral dan mental orang yang berpuasa. Bagi mereka yang punya hobi makan atau ngemil kali ini harus menahan dari kebiasan itu. Terasa berat namun karena sudah diniati ibadah seberat apapun resikonya tentu bisa terlewati dengan baik.
Secara syar’i puasa ditegaskan dalam AL Qur’an (surat al baqarah 187) sebagai menahan hawa nafsu dari makan minum dan hubungan seksual dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Pengertian ini kemudian diperjelas oleh Rasulullah seperti yang diriwayatkan oleh imam bukhori ”barang siapa yang tidak meninggalkan perbuatan zur (dusta, umpat, fitnah, segenap perkataan yang mendatangkan kemurkaan Allah, dan membuat sengketa dan keributan) dan tidak meninggalkan pekerjaan-pekerjaan itu, maka tidak ada hajat (keperluan) bagi Allah (walaupun) ia meninggalkan makan dan minum. Bukankah puasa itu hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga puasa dari perkataan kotor dan caci maki.”
Dari tolok ukur diatas dapatlah menginstrospeksi masing-masing apakah puasa yang dilaksanakan selama ini dikerjakan secara benar dan tepat, baik niat maupun tata laksananya. Jangan sampai kita berpuasa tapi ”roh puasa” itu hilang dalam diri kita. Mengapa demikian ? dikarenakan kita berpuasa baru sebatas puasa jasmani saja sednagkan rohani tidak terbina sama sekali. Padahal dalam bulan itu kata rasulullah, allah telah melimpahkan karunia dan menurunkan rahmatnya, menghapus kesalahan-kesalahan dan mengabulkan doa-doa umatnya.. tentu kita berharap agar dibulan puasa ini selalu menjadi sarana untuk berlomba-lomba dalam amal shalih dan kebijakan dengan mengharap ridho dan rahmat allah SWT. Serta menjaga sportifitas diri baik dalam berkarya maupun berusaha, meski di siang hari stamina agak menurun.
Disiplin diri dan memberi contoh
Dimensi puasa dapat ditinjau dari berbagai segi, mulai dari segi kesehatan, sikap prilaku, ekonomi, sosial kemasyarakatan dsb. Dari segi sikap perilaku diri dampak puasa adalah mampu manahan dari perbuatan-perbuatan yang menggugurkan puasa itu sendiri. Tentu kita berharap jangan sampai termasuk apa yang disampaikan Nabi SAW. Banyak orang yang berpuasa tetapi tidak akan mendapat apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga. Alangkah ruginya kita.
Secara jasmani tentu ada pengaruh akibat berpuasa, mulai dari rasa haus, lapar, letih, dan mengantuk, sehingga tidak maksimal seperti hari-hari biasa. Namun yang lebih urgen dari puasa adalah kita diajarkan disiplin, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Segera berbuka bila sudah saatnya. Menjunjung tinggi kejujuran dan tidak berbohong serta berusaha meraih prestasi yang terbaik dihadapan allah dengan melakukan amaliah-amaliah utama dibulan ramadhan. Demikian pula dari segi lahiriah, karena sudah dibiasakan disiplin pada saat puasa, minimal dalam dunia kerja pun disiplin dan berupaya meraih prestasi dalam berkarya.
Kedisplinan kerja merupakan cermin pribadi seseorang. Hal ini dapat terealisir jika dimulai dari diri sendiri, tidak cukup digembor-gemborkan atau ditulis dalam slogan/spanduk nan menawan saja. Harus ada aksi, dan dimulai dari diri sendiri ibda’binafsik, dan dibulan ramadhan ini, para pemimpin rakyat sudah memulai melakukan perubahan, dan dimulai dari diri mereka sendiri. Seperti contoh yang ditujukan oleh ketua MPR kita, meski dalam tamsil yang berbeda. Dalam rangka sense of crisis serta menjawab anggapan masyarakat bahwa para wakil rakyat ketika kampanye berpidato secara muluk. Namun setelah mereka duduk dilegeslatif seakan lupa janji mereka yang akan memperjuangkan nasib rakyat, namun justru sebaliknya banyak para wakil rakyat ”yang terhormat” harus mendekam dipenjara. Dikarenakan melakukan penyalahgunaan wewenang untuk memprkaya diri dengan dalih memperjuangkan aspirasi rakyat. Dalam rangka itulah, ia mulai membangun image dan merealisasikan janjinya dengan keluar dari sistem kebiasaan, ia berani menolak segala fasilitas mewah yang diberikan negara, dan nampaknya diikuti oleh beberapa menteri baru. Di pemalang pun kita cukup respec terhadap inisiatif salah seorang legeslatif daerah ketika sudah tidak menjabat lagi sebagai top leader dengan serta merta mengembalikan fasilitas mobil dinasnya tanpa menunggu suara sumbang dari masyarakat bermunculan. Hal itu semata-mata untuk menjadi tauladan bagi rakyat yang memilihnya. Menjaga kepercayaan dan kedisiplinan diri adalah cermin dari kepribadian matang seseorang dalam hidup bermasyarakat.

Selasa, 21 April 2009

Jika Manusia Buta dan Dibutakan Sareat Tanpa memandang ILMU HAKEKAT

Ada sebuah tulisan yg saya temukan disebuah media yang pada intinya menjelek-jelekan beliau Ulama besar Al-Imam Ghozali ra.

berikut tulisanya:

Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin
Al-Ustadz Abu ‘Utsman ‘Ali, Lc.

Tak banyak yang tahu, Ihya` ‘Ulumiddin, kitab yang banyak dipuja orang ini, merupakan salah satu gudangnya kemungkaran. Kajian berikut memang tidak memaparkannya secara keseluruhan. Namun cukuplah menjadi peringatan bagi kita semua agar tidak lagi menggeluti buku ini terlebih mengagungkannya.
Ahlus Sunnah Wal Jamaah merupakan suatu umat yang senantiasa berupaya untuk komitmen di atas kemurnian agama, serta bersikap tegas terhadap segala bentuk penyimpangan atau upaya segolongan orang yang akan mengaburkan As-Sunnah.
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya): “Yang paling aku takutkan menimpa umatku ialah imam-imam yang menyesatkan.” (HR. Abu Dawud, 4/4252 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, jilid 4 no. 1586)
Abdurrahman bin Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Aku mendengar bapakku dan Abu Zur’ah, keduanya memerintahkan untuk memboikot ahlul bid’ah. Keduanya sangat keras terhadap mereka, dan mengingkari pemahaman kitab (Al-Qur`an, red.) dengan akal semata tanpa bersandar dengan atsar (hadits, red.), melarang duduk bersama ahlul kalam (kaum filsafat), dan melihat kitab-kitab ahlul kalam.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 322)

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Kalian akan mendapati segolongan kaum yang menyangka bahwa mereka menyeru kepada Kitabullah, namun hakekatnya mereka telah melemparkannya ke belakang punggung-punggung mereka.” (Al-Ibanah, 1/322)

Mengingat hal ini, akan kami paparkan secara ringkas tentang kitab Ihya` ‘Ulumiddin yang selalu dibanggakan segolongan orang. Bahkan dianggap sebagai literatur yang sarat akan bimbingan aqidah dan akhlak!

Berikut beberapa kesalahan yang terdapat dalam kitab Ihya` ‘Ulumiddin dan bantahannya secara global.1. Dalam pembahasan sifat-sifat Allah Subhanahu Wata’ala, Al-Ghazali terkadang melakukan penakwilan ayat-ayat yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah Subhanahu Wata’ala.

Ahlus Sunnah Wal Jamaah selalu meyakini bahwa sifat-sifat Allah Subhanahu Wata’ala tidak boleh disamakan dengan sifat makhluk, tidak boleh ditanyakan tentang bagaimana keadaannya, tidak boleh menakwilkan dengan sesuatu yang keluar dari makna zhahir sebagaimana yang telah diyakini salafus shalih, dan tidak boleh pula mengingkarinya. (lihat Fathur Rabbil Bariyyah bi Talkhisil Hamawiyyah, hal. 27-28)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab Al-Wushabi hafizhahullah berkata: “Tauhid asma wash shifat adalah mengesakan Allah Subhanahu Wata’ala pada apa yang telah Dia namakan diri-Nya sendiri dengannya atau dengan apa yang telah dinamakan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, dan pada apa yang Dia sifatkan terhadap diri-Nya atau yang telah mengesakan Allah k Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sifatkan untuk-Nya, tanpa mempertanyakan bagaimananya (kaifiyah), atau menyerupakannya dengan makhluk, memalingkan maknanya, dan mengingkarinya. (Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid, hal. 81)

Sebagai contoh, Al-Ghazali telah menakwilkan makna istiwa` (artinya naik di atas ‘Arsy) dengan istaula (menguasai). (lihat Ihya` ‘Ulumiddin, jilid 1 sub pemba-hasan Aqidah)

Hal ini telah menyelisihi Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ para salafush shalih. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya):“Sucikan Rabbmu yang Maha Tinggi.” (Al-A’la: 1)

“Sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi dan Maha Besar.” (An-Nisa`: 34)

“Ar-Rahman ber-istiwa` di atas ‘Arsy-Nya.” (Thaha: 5)

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya):“Ketika Allah menentukan ketentuan makhluk, maka Dia tulis dalam Kitab-Nya yang ada di sisi-Nya, di atas ‘Arsy…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Tidak ada satupun salafush shalih yang mengingkari bahwa Allah k benar-benar ber-istiwa` di atas Arsy-Nya. Yang tidak mereka ketahui adalah bagaimana cara ber-istiwa`. Dan sungguh hal itu tidaklah diketahui hakekatnya.” (Muhammad bin ‘Utsman bin Abi Syaibah wa Kitabuhu Al-’Arsy, hal. 187)2. Al-Ghazali berkata tentang ilmu kalam: “Dia merupakan penjaga aqidah masyarakat awam dan yang melindungi dari berbagai kerancuan para ahli bid’ah. Dan perumpamaan ahli ilmu kalam adalah seperti penjaga jalan bagi para jamaah haji.” (Ihya` ‘Ulumiddin, 1/22)

Aqidah yang bersih akan selalu terbangun di atas pondasi yang benar berlandaskan Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Adapun ilmu kalam adalah belenggu yang menjadikan orang terlena dengan akal, sehingga akan menjauh dari hakekat kemurnian aqidah.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi mereka yang mengharap Allah dan hari kiamat, dan dia banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah: “Contoh yang baik adalah Rasulullah n. Orang yang mengambil suri teladan darinya berarti telah menempuh suatu jalan yang akan menyampaikan kepada kemuliaan Allah Subhanahu Wata’ala. Inilah jalan yang lurus.”

Al-Imam Al-Barbahari rahimahullah: “Ketahuilah –semoga Allah Subhanahu Wata’ala merahmatimu–, sungguh tidaklah muncul kezindiqan, kekufuran, keraguan, bid’ah, kesesatan, dan kebingungan dalam agama kecuali akibat ilmu kalam, ahli ilmu kalam, debat, berbantahan, dan perselisihan.” (Syarhus Sunnah, hal. 93)
Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Mengikuti ocehan ahli ilmu kalam dan filsafat merupakan kerusakan yang nyata. Tak sedikit orang yang mencoba menyelami perkara itu akhirnya berlumuran dengan berbagai kotorannya, sebagaimana ucapan Al-Imam Ahmad: ‘Tidaklah orang yang melihat ilmu kalam kecuali akan terpengaruh dengan Jahmiyyah’. Beliau dan para ulama salaf lainnya selalu memperingatkan dari ahli ilmu kalam walaupun (ahli ilmu kalam itu) berniat membela As-Sunnah.” (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf, hal. 43)

Abdurrahman Muhammad Sa’id Dimasyqiyah berkata: “Ilmu kalam –yang telah disepakati Al-Imam Malik, Abu Hani-fah, Ahmad, dan Asy-Syafi’i sebagai suatu yang bid’ah– tidak akan mungkin menjadi penjaga aqidah dari berbagai bid’ah. Karena ilmu kalam itu sendiri adalah bid’ah.” (Abu Hamid Al-Ghazali ‘Aqida-uhu wa Tashawwufuhu hal. 9)

Sungguh malang nasib pengagum ilmu kalam. Na’udzubillahi min dzalika (Kita berlindung kepada Allah Subhanahu Wata’ala dari hal itu).3. Al-Ghazali membagi ilmu menjadi dua bagian:a. Ilmu zhahir: ilmu muamalah.b. Ilmu batin: ilmu kasyaf. (Ihya` ‘Ulumiddin, 1/19-21)

Keyakinan bahwa ilmu kasyaf merupakan puncak ilmu merupakan hal yang umum di kalangan para Shufi! Kasyaf menurut keyakinan Shufi adalah tersingkapnya hijab di hadapan para wali Shufi, sehingga dia bisa melihat dan mengetahui sesuatu yang ghaib tanpa melalui indera perasa. Namun ilmu kasyaf adalah ilmu yang terilhamkan dalam hati. (Ash-Shufiyah wa Ta‘atstsu-ruha bin Nashraniyyah wal Yahudiyyah, hal. 114)

Sungguh menakutkan keadaan mereka. Bukankah Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman (yang artinya):

“Katakanlah: ‘Tidak ada siapapun yang ada di langit dan di bumi yang mengetahui suatu yang ghaib selain Allah.’” (An-Naml: 65)

“(Dialah) Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan tidak menampakkannya kepada siapapun, kecuali kepada utusan-Nya yang telah Dia ridhai. Sesungguhnya Dia memberikan penjagaan (dengan para malaikat) dari depan dan belakangnya.” (Al-Jin: 26-27)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Dia mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dan sungguh tidak ada makhluk-Nya yang bisa mengetahui ilmu-Nya kecuali yang Allah k beritahukan kepadanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/462)
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya): “Ada lima perkara yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.” Kemudian beliau membaca ayat (yang artinya): “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34) [HR. Ahmad, 5/353. Dihasankan Asy-Syaikh Muqbil v dalam Shahihul Jami’, 6/361]
Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Ilmu ghaib merupakan sifat khusus bagi Allah Subhanahu Wata’ala. Dan segala perkara ghaib yang Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam kabarkan merupakan sesuatu yang dikabarkan Allah Subhanahu Wata’ala kepadanya. Dan tidaklah beliau mengetahui dari dirinya sendiri.” (Fathul Bari, 9/203). Adanya keyakinan kasyaf merupakan upaya penghinaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.4. Penafsiran ayat secara ilmu batin dan keluar dari kaedah-kaedah salaf.

Sebagai contoh Al-Ghazali menafsirkan firman Allah Subhanahu Wata’ala (yang artinya): “Dan jauhkan aku serta keturunanku dari penyembahan terhadap berhala.” (Ibrahim: 35)
Al-Ghazali menyatakan bahwa yang dimaksud berhala adalah dua batu, yaitu emas dan perak! (Ihya` ‘Ulumiddin, 3/235)

Cara seperti ini merupakan tipudaya setan, karena hanya akan menjadikan seseorang keluar dan menyeleweng dari pemahaman salafush shalih.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya):

“Katakanlah, jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)

“Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami jadikan ia di Jahannam. Dan Jahannam adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (An-Nisa`: 115)
Ilmu batin menurut Shufiyyah adalah rahasia-rahasia ilmu yang ganjil, dan hanya diketahui oleh orang-orang Shufi yang berbicara dengan lisan yang abadi. (Majmu’ Fatawa, 13/231)

Keadaan ini menyerupai orang-orang bathiniyyah Qaramithah yang menafsirkan Al-Qur`an secara ilmu batin, seperti shalat berarti doa, puasa berarti menahan rahasia, haji bermakna safar dan berkunjung kepada guru serta para syaikh. (Majmu’ Fatawa, 13/236)5. Al-Ghazali terpengaruh dengan suluk orang-orang Cina dan kependetaan dalam Nasrani. (Ihya` ‘Ulumiddin, 3/334)

Ia berkata: “Upaya para wali dalam penyucian, pencerahan, kebersihan, dan keindahan jiwa sehingga suatu kebenaran menjadi gemerlap, nampak dan bersinar sebagaimana dilakukan orang-orang Cina. Dan demikianlah upaya kaum cendekiawan dan ulama untuk meraih dan menghiasi ilmu, sehingga terpatri indah dalam hati sebagaimana yang dilakukan orang-orang Romawi.” (Ihya` ‘Ulumiddin, 3/24)

Bahkan hubungan manis antara Shufiyyah dengan Nasrani dinyatakan Ibrahim bin Adham. Ia berkata: “Aku mempelajari ma’rifat dari seorang pendeta bernama Sam’an dan aku pernah masuk ke dalam tempat ibadahnya.” (Talbis Iblis, hal. 137)

Abdurrahman Al-Badawi berkata: “Sungguh, kalangan Shufiyyah dari kaum Muslimin menganggap tidak mengapa untuk mendengarkan pelajaran-pelajaran para pendeta dan perihal olah batin mereka karena terdapatnya faedah, walaupun hal itu datang dari Nasrani. (Ash-Shufiyyah wa Ta`atstsuruha bin Nashraniyyah wal Yahudiyyah, hal. 64)

Anggapan seperti ini sangatlah naif, dan hanya akan melumpuhkan serta menelanjangi seseorang dari al-wala` wal-bara`. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya):

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)“Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jatsiyah: 18)

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya):

“Benar-benar kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang sebelum kalian…” (HR. Al-Bukhari no. 3456 dan Muslim no. 2669)“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk mereka.” (HR. Abu Dawud, 2/74. Dan dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Adabuz Zifaf hal. 116)

Bahkan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dengan jelas menyatakan (yang artinya): “Tidak ada kependetaan dalam Islam.” (Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, 4/7)

Sungguh perilaku Shufiyyah merupakan virus pluralisme yang akan selalu bergulir seperti bola liar dengan kemerdekaan berfikir tanpa batas (freedom of thinking is every-thing).6. Menurut Al-Ghazali, martabat kenabian bisa diraih seorang Shufi dari sisi turunnya ilham Ilahi di dalam hatinya. (Ihya`, 3/18-19)

Menurut para Shufi, ilham adalah pancaran ilmu kepada para syaikh dan wali dari Allah Subhanahu Wata’ala, yang tercurahkan dalam hati, yang bisa didapatkan baik saat terjaga ataupun tidur, sehingga terbukalah rahasia ilmu yang ada di Lauhul Mahfuzh. Hal ini terkadang mereka namakan ilmu laduni, yang tidak akan berakhir seperti berhentinya wahyu kepada para nabi. (Ash-Shufiyah wa Ta`atstsuruha bin Nashraniyyah wal Yahudiyyah, hal. 114-115)

Bahkan Al-Ghazali berkata: “Sesungguhnya hati, di hadapannya siap tergelar hakekat sesuatu yang haq dalam semua urusan. Bahkan tercurahkan segala bentuk yang rahasia dan tersingkap dengan mata hati, menjadikan apa yang tertulis di Lauhul Mahfuzh terpampang, sehingga bisa mengetahui apa yang akan terjadi.”

Kemudian beliau menambahkan: “Berbagai urusan tersingkap bagi para nabi dan wali. Dan suatu cahaya tertuang dalam hati mereka yang didapatkan tanpa belajar, mengkaji, menulis, dan buku-buku, yang diraih dengan zuhud di dunia. (Ihya` ‘Ulumiddin, 3/18-19)

Beliau juga berkata: “Sesungguhnya ilmu-ilmu yang didapatkan para nabi dan wali itu melalui pintu batin atau melalui hati, dan melalui pintu yang terbuka dari alam malakut/ Lauhul Mahfuzh.” (Ihya` ‘Ulu-middin, 3/20)

Abdurrahman Muhammad Sa’id Dimasyqiyah berkata: “Perkataan Al-Gha-zali tentang kenabian merupakan kepanjangan tangan Ibnu Sina yang menganggap bahwa para nabi memiliki tiga kekuatan: kekuatan kesucian, kekuatan khayalan, kekuatan perasaan dan batin.” (Abu Hamid Al-Ghazali ‘Aqidatuhu wa Tashaw-wufuhu hal. 35)

Abdurrahman Muhammad Sa’id Dimasyqiyah menukilkan ucapan Al-Ghazali dalam kitab Al-Jawahirul Ghali: “Tidak ada perbedaan sedikitpun antara wahyu dan ilham, bahkan dalam kehadiran malaikat yang memberikan faedah ilmu. Sesungguhnya ilmu didapatkan dalam hati kita dengan perantara para malaikat.” (Abu Hamid Al-Ghazali ‘Aqidatuhu wa Tashawwufuhu hal. 38)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya yang terkandung dalam ucapan mereka adalah bahwa berita-berita dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tidaklah berfaedah sedikitpun dalam sisi ilmiah. Bahkan hal yang seperti itu bisa diraih oleh setiap orang dengan musyahadah [1], nur, dan kasyaf.” (Dar`u Ta’arudhil ‘Aql wan Naql, 5/347)
Al-Ghazali bahkan menghina para fuqaha dengan ucapannya: “Para fuqaha hanyalah sekedar ulama dunia dan tugas mereka tidak lebih dari itu.” (Ihya` ‘Ulumiddin, 1/18)
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Kebenciannya kepada para fuqaha merupakan kezindiqan terbesar. Karena para fuqaha selalu menghadirkan fatwa-fatwa tentang kesesatan dan kefasikan mereka. Dan sungguh al-haq itu berat sebagaimana beratnya zakat.” (Talbis Iblis hal. 374)

Abdurrahman Muhammad Sa’id Dimasyqiyyah berkata: “Fiqih merupakan suatu upaya untuk membenahi sesuatu yang zhahir dan yang batin. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya): “Akan tetapi orang-orang munafiq tidaklah memahami.” (Al-Munafiqun: 7)

Jikalau hati-hati mereka bersih dan tercermin dalam zhahir-zhahirnya, sungguh mereka adalah orang yang memahami. Ingatlah pemimpin para fuqaha, Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu yang didoakan oleh Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam: ‘Ya Allah, fahamkanlah dia dalam urusan agama’.” (Abu Hamid Al-Ghazali ‘Aqida-tuhu wa Tashawwufuhu hal. 45)
Perilaku Shufiyyah merupakan pintu kesombongan, kecongkakan dan sikap ekstrim dalam memposisikan diri mereka. Mereka telah melupakan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai seorang nabi yang membawa kesempurnaan syariat dan akhlak yang mulia. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya):

“Hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian dan telah Aku sempurnakan kepada kalian nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.” (Al-Ma`idah: 3)

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.” (Ali ‘Imran: 164)7. Tentang ajaran wihdatul wujud, Al-Ghazali berkata menyebutkan tingkatan orang-orang shiddiqin: “Mereka adalah segolongan kaum yang melihat Allah Subhanahu Wata’ala dalam keesaan-Nya. Dengan-Nya, mereka melihat segala sesuatu. Dan tidaklah mereka melihat dalam dua tempat selain dari-Nya, dan tidaklah mereka memperhatikan alam wujud selain Dia. Inilah memperhatikan de-ngan pandangan tauhid. Hal ini mengajarkan kepadamu bahwa yang bersyukur adalah yang disyukuri. Dan dia adalah yang mencintai dan yang dicintai [2]. Inilah pandangan seseorang yang mengetahui bahwa tidaklah ada di alam yang wujud ini melainkan Dia.” (Ihya` ‘Ulumiddin, 4/86)
Bahkan terdapat keterikatan yang kuat antara Al-Ghazali dan Al-Hallaj yang meyakini aqidah wihdatul wujud, bahkan sebagai puncak dari tauhid. (Ihya` ‘Ulumiddin, 4/247)
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata membantah keyakinan yang bejat ini: “Para salaf mengkafirkan Jahmiyah karena perkataan mereka bahwa Allah Subhanahu Wata’ala berada di semua tempat. Di antara bentuk pengingkaran para salaf adalah: Bagaimana mungkin Allah Subhanahu Wata’ala berada di perut, di tempat-tempat kotor, di tempat-tempat sunyi? Maha Tinggi Allah dari perkara tersebut! Lalu bagaimanakah dengan mereka yang menjadikan perut, tempat-tempat kotor, tempat-tempat sunyi, barang-barang najis, dan kotoran-kotoran sebagai bagian dari Dzat-Nya?” (Majmu’ Fatawa, 2/126)

Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah Subhanahu Wata’ala ber-istiwa` di atas ‘Arsy dan Allah Subhanahu Wata’ala tidak membutuhkan ‘Arsy. Dan Allah Subhanahu Wata’ala tidaklah serupa dengan makhluk dalam segala sifat-Nya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya):

“Ar-Rahman ber-istiwa` di atas ‘Arsy.” (Thaha: 5)

“Sesungguhnya Rabb kalian telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian ber-istiwa` di atas Arsy.” (Yunus: 3)

“Tidaklah Allah serupa dengan apapun dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)8. Ajaran khalwat atau menyendiri dan menyepi, dan kesalahan dalam memahami ‘uzlah. Al-Ghazali berkata: “Dalam ‘uzlah (menyingkir dan menjauhi umat), ada jalan keluar (kedamaian). Adapun dalam beramar ma’ruf dan nahi mungkar akan meninggalkan perselisihan dan membangkitkan kedengkian hati. Dan siapapun yang mencoba beramar ma’ruf niscaya kebanyakannya akan menyesal.” (Ihya` ‘Ulumiddin, 2/228)

Bahkan dengan khalwat akan tersingkap kehadiran Rabb dan nampak baginya Al-Haq. (Ihya` ‘Ulumiddin, 3/78)

Syarat-syarat khalwat menurut kaum Shufi:
Meminta bantuan dengan ruh para syaikh, dengan perantara gurunya.
Menyibukkan diri dengan dzikir sehingga nampak Allah Subahanahu Wata’ala baginya.
Bertempat di ruangan yang gelap dan jauh dari suara serta gerakan manusia.
Tidak berbicara.
Tidak memikirkan kandungan makna Al-Qur`an dan hadits, karena akan menyibukkan dari dzikir yang sebenarnya.
Tidak boleh masuk dan keluar dari tempat khalwat kecuali dengan izin dari syaikhnya.
Selalu mengikat hati dengan mengingat syaikh. (Ash-Shufiyah wa Ta‘atstsuruha bin Nashraniyyah wal Yahudiyyah, hal. 186)
Ini merupakan amalan-amalan yang akan menguburkan nilai-nilai agama yang suci, akibat salah memahami ‘uzlah dan upaya meniru gaya kependetaan.
Makna ‘uzlah bukanlah khalwat ala Shufiyyah yang rancu. Maknanya adalah menjauhi suatu fitnah agar tidak menimpanya, baik itu di dalam rumah ataupun di suatu tempat, yang apabila telah hilang fitnah tersebut maka dia kembali melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, berdakwah, dan berjihad di jalan-Nya. (lihat Ash-Shufiyyah wa Ta`atstsuruha bin Nashraniyyah wal Yahudiyyah, hal. 188)

Suatu fitnah harus dihadapi dengan ilmu dan bimbingan yang benar, bukan dengan sikap emosional atau mengekor pola-pola orang kafir. (baca kitab Al-Qaulul Hasan fi Ma’rifatil Fitan)9. Al-Ghazali lebih mengutamakan as-sama’ (mendengarkan nasyid dan dendang kerohanian) daripada membaca Al-Qur`an. Setelah menceritakan keutamaan as-sama’, beliau berkata: “Dan apabila hati telah terbakar (mabuk) dalam kecintaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, maka untaian bait syair yang aneh akan lebih membangkitkan sesuatu yang tidak bisa dibangkitkan dengan membaca Al-Qur`an.” (Ihya` ‘Ulumiddin, 2/301)
Keganjilan kaum Shufi ini merupakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan para shahabat. Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata: “Berkumpul untuk mendengarkan dendangan-dendangan rohani baik yang diiringi tepuk tangan, dawai, ataupun rebana, merupakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan para shahabat, baik Ahlush Shuffah atau yang lainnya. Demikian pula para tabi’in (tidak pernah melakukannya).” (Majmu’ Fatawa, 11/57)

Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata: “Tidaklah aku tinggalkan Baghdad kecuali telah muncul at-taghbir (dendang kerohanian) yang dibuat orang-orang zindiq, yang hanya menghalangi manusia dari Al-Qur`an. Dan Yazid bin Harun berkata: “Tidaklah melakukan at-taghbir kecuali orang fasiq.” (Majmu’ Fatawa, 11/569)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Orang yang membiasakan mencari semangat dengan as-sama’ niscaya tidak akan lembut dan senang hatinya dengan Al-Qur`an. Dan dia tidak akan mendapatkan apapun saat mendengarkan Al-Qur`an sebagaimana ketika mendengarkan bait-bait syair. Bahkan apabila mendengarkan Al-Qur`an, dia akan mendengarkan dengan hati dan lisan yang lalai.” (Majmu’ Fatawa, 11/568)
Orang-orang Shufi telah melupakan firman Allah Subhanahu Wata’ala (yang artinya):“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah apabila diingatkan tentang Allah maka hati-hati mereka bergetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka.” (Al-Anfal: 2)“Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah hati akan tenang.” (Ar-Ra’d: 28)10. Kesalahan yang fatal dalam memahami makna tawakkal, sehingga menghilangkan sebab yang harus ditempuh. Al-Ghazali berkata: “Telah diceritakan dari Banan Al-Hammal: ‘Suatu hari saya dalam perjalanan pulang dari Mesir, dan saya membawa bekal keperluanku. Datanglah kepadaku seorang wanita dan menasehatiku: ‘Wahai Banan, engkau adalah tukang pembawa yang selalu membawa bekal di punggungmu dan engkau menyangka bahwa Dia tidak memberimu rizki?’ Banan berkata: ‘Maka aku buang bekalku’.” (Ihya` ‘Ulumiddin, 4/271)

Hal ini sangatlah berseberangan dengan bimbingan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya):“Hendaknya kalian mengambil bekal, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Al-Baqarah: 197)
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: “Allah Azza Wa Jalla memerintahkan untuk membawa bekal bagi safar yang mubarak (diberkahi) ini (yakni haji). Sesungguhnya persiapan bekal akan mencukupinya dan bisa mencegah dari harta orang lain, tidak mengemis dan meminta bantuan. Bahkan dengan memperbanyak bekal akan bisa menolong para musafir.” Kemudian beliau berkata: “Adapun bekal yang hakiki yang akan terus bermanfaat di dunia dan di akhirat adalah bekal takwa, inilah bekal untuk menuju rumah abadi.” (Taisirul Karimirrahman hal. 74)
Al-Ghazali berkata: “Barangsiapa menyimpan persediaan makanan untuk 40 hari atau kurang dari itu, maka akan terharamkan dari al-maqam al-mahmud (kedudukan terpuji) yang dijanjikan kepada orang yang bertawakkal di akhirat kelak.” (Ihya` ‘Ulumiddin, 4/276)
Al-’Iraqi berkata setelah menyebutkan hadits bahwa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam mempersiapkan makanan untuk keluarganya selama satu tahun yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari: “Apakah Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam telah keluar dari tingkatan orang-orang yang bertawakkal, sebagaimana yang diterangkan Al-Ghazali dalam manhajnya yang rusak dalam masalah tawakkal?” (Abu Hamid Al-Ghazali ‘Aqidatuhu wa Tashawwufuhu hal. 79)

Bahkan ketika orang-orang Nasrani menyerbu negeri Baghdad, ia lebih memilih untuk ber-khalwat daripada berjihad. (Abu Hamid Al-Ghazali ‘Aqidatuhu wa Tashawwufuhu hal. 89)11. Menjauhi suatu yang fitrah, bahkan yang diperintahkan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, seperti nikah.

Al-Ghazali berkata: “Barangsiapa menikah maka sungguh dia telah cenderung kepada dunia.” (Ihya` ‘Ulumiddin, 3/101)

Hal ini sangat menyelisihi sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam (yang artinya): “Menikahlah kalian, sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya umat dari kalian, dan janganlah kalian meniru kependetaan Nasrani.” (Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 4/385, hadits no. 1782. Beliau mengatakan hadits ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 7/78)PERINGATAN ULAMA SALAF TERHADAP KITAB IHYA` ‘ULUMUDDIN [3]
Asy-Syaikh Abdul Lathif bin Abdur-rahman Alusy Syaikh berkata: “Di dalam kitab Ihya`, beliau (yakni Al-Ghazali) menulis dengan metode filsafat dan ilmu kalam dalam banyak pembahasan yang berkaitan dengan permasalahan ketuhanan dan teologi, serta membingkai filsafat dengan syariat. Ibnu Taimiyyah berkata: ‘Namun Abu Hamid telah memasuki ruang lingkup ilmu filsafat dalam banyak hal, yang Ibnu ‘Aqil menyatakan ilmu filsafat sebagai bagian dari zindiq’."
Ibnul ‘Arabi, murid Al-Ghazali mengatakan: “Guru kami Abu Hamid telah masuk dalam cengkeraman ilmu filsafat, dan beliau ingin melepaskannya namun tidak berhasil.” [4]
Abu ‘Ali Ash-Shadafi berkata: “Syaikh Abu Hamid terkenal dengan berbagai berita buruk dan memiliki karya yang besar. Beliau sangat ekstrim dalam tarekat Shufiyyah dan mencurahkan waktunya untuk membela madzhabnya, bahkan menjadi penyeru dalam Shufiyyah. Beliau mengarang berbagai tulisan yang terkenal dalam hal ini dan membahasnya dalam berbagai tempat, sehingga mengakibatkan umat berburuk sangka kepadanya. Sungguh Allah Yang Maha Tahu rahasianya. Dan penguasa di tempat kami di negeri Maghrib –berdasarkan fatwa para ulama– telah memerintahkan untuk membakar dan menjauhi karyanya.”
Adz-Dzahabi berkata: “Karyanya ini penuh dengan musibah yang sungguh sangat tidak menyenangkan.”

Ahmad bin Shalih Al-Jaili: “(Al-Ghazali adalah) seorang yang fatwa-fatwanya terbangun dari sesuatu yang tidak jelas. Di dalamnya banyak riwayat-riwayat yang dicampuradukkan antara sesuatu yang tsabit/jelas dengan yang tidak tsabit. Demikian pula apa yang dia nisbatkan kepada para ulama salaf, tidak mungkin untuk dibenarkan semuanya. Ia juga menyebutkan berbagai kejadian-kejadian para wali dan renungan-renungan para wali sehingga mengagungkan posisi mereka. Ia mencampurkan sesuatu yang manfaat dan yang berbahaya.”

Abu Bakr Ath-Thurthusi berkata: “Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya` dengan berbagai kedustaan atas nama Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan tidaklah ada di atas bumi yang lebih banyak kedustaan darinya, sangat kuat keterikatannya dengan filsafat dan risalah Ikhwanush Shafa, yaitu segolongan orang yang menganggap bahwa kenabian adalah sesuatu yang bisa diraih manusia biasa dan mu’jizat hanyalah halusinasi dan khayalan.”
Semoga Allah Subhanahu Wata’ala selalu menjaga kita dari tipu daya, kesesatan dan makar setan.Wallahu a’lam.[1] Musyahadah menurut kalangan Shufi adalah melihat kehadiran Allah Subhanahu Wata’ala yang kemudian memberikan/membuka rahasia-rahasia-Nya kepada hamba-Nya.[2] Maksudnya dia telah bersatu dengan Allah, sehingga tidak lagi terpisah antara dia dengan Allah.[3] Diambil dari kitab At-Tahdzirul Mubin min Kitab Ihya` ‘Ulumiddin karya Asy-Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman Alusy Syaikh[4] Tentang akhir kehidupan Al-Ghazali, Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan: “…Oleh karena itu, menjadi jelas baginya (Al-Ghazali, ed) di akhir hayatnya bahwa jalan tasawuf tidaklah menyampaikan kepada tujuannya. Kemudian ia mencari petunjuk melalui hadits-hadits Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Mulailah ia menyibukkan diri dengan Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Dan ia meninggal di tengah kesibukannya itu, dalam keadaannya yang paling baik. Beliau juga membenci apa yang terdapat dalam bukunya berupa perkara-perkara semacam itu, yaitu perkara yang diingkari oleh orang-orang.” (‘Aqidah Asfahaniyyah, hal. 108, ed)


Perlu kita sadari bersama bahwa Al-quran itu bukanlah sesuatu yang ditafsirkan secara mentah-mentah namun demikian perlu pemahaman secara rasa bahkan ketajaman hati,
"barang siapa menafsiri al-quran dengan otaknya sendiri maka dia termasuk orang yang dikasih pilihan mau milih neraka mana "

kita tidak akan bisa mentarjemahkan ilmu tasyawuf tanpa kita ikut masuk dan terlibat didalamnya, Jadi bagi mereka yang lebih fer kepada ilmu sareat janganlah begitu mudah menuduh golongan tasyawuf karena golongan tasyawuf juga jarang sekali menuduh suatu hal yang sesat kepada ahli sareat walaupun secara pemikiran tasyawuf jelas mereka sesat

demikian penjelasan singkat dr kami


Wassalam......
RQ selalu hidup